Kamis, 12 April 2012

PENSIUN DAN DAMPAKNYA
 oleh : 
Andito Cahyo Laksono
Fath Fatheya
M. Fajri
Nadhila Nuhannisa
Riezqy Rachmadana


Masa pensiun merupakan sebuah peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia yang bekerja pada umumnya. Masa pensiun sendiri merupakan sebuah fase kehidupan yang lebih berpengaruh terhadap kondisi psiko-sosial seseorang dibanding dengan kondisi fisik. Definisi pensiun sendiri ada berbagai macam, akan tetapi Mahmud (2005) mengatakan bahwa pensiunadalahsalahsatuperiodetransisidalammasalate adulthood yang memerlukan adaptasi dan perubahan peranan dan persepsi tingkahlaku.

Masa pensiun lazimnya dialami oleh manusia yang berada pada tahap late adulthood. Oleh karena itu, dalam bukunya, Papalia, Old, Feldman (2009) memasukkan fase retirement atau pensiun ini setelah masa late adulthood. Masa pensiun memerlukan penyesuaian yang kadang gagal dilakukan oleh beberapa orang sehingga menimbulkan frustasi. Usia pensiun berbeda-beda di tiap daerah. Untuk di Indonesia, usia pensiun adalah 55 tahun, sedangkan di negara lain seperti Amerika Serikat, pensiun terjadi pada usia 65 tahun. Adapun orang-orang yang memutuskan untuk pensiun sebelum umur yang telah disebutkan di atas disebut mengambil pensiun dini.
            Menurut Atchely (1976), ada empat fase yang dihadapi oleh seseorang yang akan mengaadapi masa pensiun, yaitu:
a.      Honeymoon Phase
b.      Reorientation Phase
c.       Stability Phase
d.      Termination Phase

a.      Honeymoon Phase
Adalah fase di mana seseorang yang baru pensiun merasakan dampak-dampak yang ia rasakan dari segi positif pasca ia pensiun. Hal ini meliputi euphoria dan merasakan kebebasan yang baru ia dapatkan. Fase ini dapat berlangsung dalam jangka waktu yang panjang atau singkat, dan hal tersebut bervariasi tergantung dari orang yang mengalaminya sendiri. Pada fase ini, terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kondisi kehidupan orang tersebut, contohnya adalah kesehatan yang berkurang, keterbatasan finansial, dan mulai hidup tanpa harus diatur seperti yang telah ia alami sebelumnya.
b.      Reorientation Phase
Fase ini dibutuhkan bagi orang-orang yang fase pensiunnya mengalami kegagalan atau mengalami guncangan yang hebat selama masa pensiunnya. Fase ini meliputi tindakan-tindakan berupa keterlibatan dalam berbagai kegiatan yang diorganisir oleh kelompok tertentu. Sifat dari kegiatan ini adalah untuk menyesuaikan pensiunan dengan kegiatan-kegiatan yang cocok bagi mereka.

Stability Phase
Pada fase ini, seseorang dianggap telah mengetahui dan telah mengenal dirinya sendiri dan telah mempersiapkan masa pensiun mereka dengan baik. Pada fase ini, seseorang dianggap telah mengembangkan konsep pensiun yang akan dianutnya, sehingga ia cenderung menjalani hidup yang nyaman dan dapat ia nikmati.

c.       Termination Phase
Fase ini mengacu pada teminasi dari status seseorang sebagai pensiunan.  Kehilangan status ini dapat disebabkan oleh kematian, maupun bila ada pekerjaan yang bersifat full time yang telah ia ambil.

REFERENSI
Papalia, D.E., Olds, S.W., Feldman, R.D. (2009) Human Development Eleventh Edition. New York: McGraw-Hill International Edition.
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Follow by Email