Tampilkan postingan dengan label malam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label malam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Juli 2014

Arestasi

*terinspirasi dari penjara diri
Layaknya kuntum dalam anestasi
Antitesis melebur dalam verbal
Cebir jiwa-jiwa lara
Seperti glukosa dalam cecap lidah-ku
Cekak-ku dalam noda-noda bayangan
Arestasi di ujung sirna
Aku merdeka!
Cekaman mereka tak ku rasa, lagi
Ceguh-ku dalam menyingsing asa
Aku kontradiksi bersama arestasi
Aku hanya dalam bebas
Celak-ku dalam terang, sirna
Ah, aku merdeka dalam lidah
Bahkan insan tak sanggup menutur
Dalam arestasi
image
30 Mei 2014, dalam arestasi bilik

Dalam Diam

*terinspirasi dari diam dalam sendiri
Jikalau aku dalam malam
Lusuh sudah jemari-ku
Memantik singgasana durjana
Dalam diam, keluh kesah bertarung
Merajut sunyi sepi
Dalam diam, kuda berbaju musang
Berlari menipu sendiri
Gentar hadapi malam hampa
Dalam diam, ku pekik besar layak dalam penjara
Gradasi warna tak ku lihat lagi
Hitam dan putih, hanya
Ah, aku bersama diam, menyeret baut-baut yang kutanggalkan bersama angin
Gores-gores dalam, pahitnya
Dalam malam bermunajat
Sendiri dalam apa
image
Depok, 29 Mei 2014, dalam bilik-bilik diam

Tertikam

*terinspirasi dari efek endorfin
Celoteh dalam bait
Desahan malam
Curiga-ku dalam dimensi waktu
Wibawa berbalut malu
Dalam makna-makna semu
Ah, aku tertikam dalam asa
Resah berbaut harap
Ya! Aku tertikam dalam rasa
Asa, harap-ku merindu dia
Curahan dia, membalut rasa pedih-ku
Pertama kali, aku bahagia
Gundah gulana serasa gulali
Manis kata lidah-ku, memberi efek endorfin pada diri-ku
Ya, aku tertikam, tertikam dalam rindu pada dia
image
Depok, 29 Mei 2014, dalam tikaman rindu

Hujan Menari

*terinspirasi dari deru rintik hujan
Laju langkah sempat, sepatu kusam-ku menertawakan
Hasrat dan langkah berat-ku
Hujan pun tak kalah angkuh
Mereka bernyanyi dalam dunia-ku
Setuju-ku dalam retaknya harga diri
Lanjar-ku dalam setapak
Membusuk semangat dalam dingin
Klise, ah aku klise!
Dalam hujan, aku rebah, di bawah temaram
Langkah-langkah memburu dalam semu
Gemetar-ku menindih, di peluk rembulan
Mereka menari laksana terang di gelap
Kilat gemuruh dalam kesombongan mereka
Artikulasi-ku tak sempat menutur
Ah, aku dalam hujan, menari-nari dalam lara-ku
Tak sempat bersandar, beri letih sedikit lega
Ah, aku dalam hujan, mereka bernyanyi menemani sendiri dalam dunia-nya
image
27 Mei 2014, di dalam hujan, di bawah temaram, sendiri

Aku Siksa Rindu

*terinspirasi dari rindu
Ah, waktu berjalan demi bumi
Sendat-sendat temaram, fungsi-ku tak stabil
Hipokampus-ku menilik masa-mu
Jemari-mu dalam melodi lalu, gusarnya tingkah laku
Aku siksa saja kau dengan rindu!
Teriak-mu dalam angin
Membisik dalam gendang telinga-ku
Ah, aku siksa saja kau dengan rindu!
Biar saja mereka tidak tahu
Hujam-ku dalam melodi lalu
Aku tanya ‘engkau nelangsa?’
Kau jawab lain ‘Ya, aku dalam rindu!’
Ah, ku kuliti rasa dalam sukma
Biar aku tahu semua itu hanya tentang rindu
Rindu dalam semu
image
Depok, 26 Mei 2014, dalam semilir angin

Kenanga

*terinspirasi dari duduk sendiri di bawah kenanga
Akar-akar nadir, aku ditelanjangi malu
Gugup-ku, dalam sindiran angin
Seperti venus, kuning jingga, aku gusar
Ditanya lembayung ‘engkau nestapa?’
Selorohku ‘dusta, aku di beranda dosa!’
Debu menatap angkuh, dalam durjananya malam
Remuk sudah sukma, aku di hilir sungai-sungai kepongahan
Tombak laksana pancung, mengubur serpihan lalu
Kesetanan dalam sendiri, dalam jurang-jurang nestapa itu
Aku di bawah kenanga, bersama angin lalu
Termangu
Sempit dirasa, peliknya kognisi
Afeksi-ku di ujung tanduk, konasi-ku tak bisa
Ya, aku seperti kenanga! Kuning dalam cahaya, hitam dalam gelap gulita
image
Depok, 26 Mei 2014, di bawah temaram, sayup-sayupnya malam

Magnet dan Durjana

*terinspirasi dari dua kutub magnet 
Tusuk saja rasa, kebal kebas ku dibuat
Kutu-kutu lidah, pekik saja, bak pedang dan perisai
Kadang ku kebas, kadang ku nelangsa
Ah, mereka durjana, hujam lidah
Pori-pori udara, hirupku sedikit, lantang-ku seret dalam lara
Tuli-ku, dalam dendang, mereka bernyanyi menari dalam lara-lara hujam-ku
Hitam-hitam kalbu, resap-ku dalam fiksi
Warna gulita, tak sempat ku merajuk dalam terang
Ah, aku magnet, kutub-kutub-ku tak sempurna, tak bernila
Berlawan, aku derita, gusar dalam denah pandang-ku
Ah, aku magnet, mereka durjana, malaikat juga
Ambigu firasat, ku tikam dalam bait-bait
Ah, aku magnet, masih kelam terang dua dimensi

Gerbong dan Lara

*terinspirasi dari duduk di sudut sendiri gerbong
Langkah lalang, sepatu kusam, berteman saja dengan mereka
Terali angkuh, mengusap peluh hilir mudik
Ah, sekujur raga bertemu, ya, mereka menyambut!
Hawa-hawa jengah, titik nadir, aku heran
Poros-poros, sirine lantang, akrab dengan-ku
Atap-atap mekanik, besi magnetik, aku melirik
Kursi ujung gerbong, duduk termenung, lepas sendiri
Ah, aku terbiasa, hilir langkah insan
Ya, imajinasi bermain, fiksi, aku tergugah
Ah, lorong-lorong besi, aku menarik sepi ke sisi
Nelangsa, gerbong-gerbong nelangsa
Tak tahu ke mana, aku biasa
image

Dalam Ambigu

*terinspirasi dari sekat-sekat kamar dan deru malam
Lorong-lorong gempita, sukacita lalu
Gagah sudah, jumawa tidak, angkuh terbuang
Gesekan jemari, dengan denting dawai, melodi harmoni
Ku hujam rasa, membunuh waktu di bilik nelangsa
Memudar gundah, kejar mengejar dalam keluh kesah
Mendingin, menusuk pori, menghujam sukma lara
Ah, aku bersandar, lara-ku pedih, perkasa dalam asa-ku
Setitik dusta, ku lerai bijak dalam raga
Terbilang saja, aku dermaga, mereka kapalnya
Melengkapi dua dimensi
Mengapa, pujangga jengah dan lelah?
Ah, aku butuh, mereka diam?
Gelisah rasa, gelitik duri dalam sukma
Pekik-ku tak ayal, menikam janji-janji di bawah temaram
Hendak, dia menyudahi ego-kah?
Ah, aku nelangsa
image

Hey, Gadis Tanpa Nama

*terinspirasi ketika gerimis 
Sajak-sajak mungkin, melambai pada gadis
Ah, aku menilik, dia membelakangi
Dawai-dawai sendu, gitar kaku, panggil dia!
Sudah saja, fantasi, rindu kepalang
Pekik hujan terdengar sayup, aku dan gadis
Gemuruh meronta, air matanya menyatu dengan pekik dan deru hujan
Gusar, miris, ku laju langkah cepat
Gersang hatinya, layak curahan hujan reda
Tangan-tangan kaku dia, ingat saja, giling asa
Hilir jumpa, atap-atap kelabu, setapak, ya semu!
Kugulung secercah asa, jemput kelu tapi
Sudah kepalang, gadis memalingkan wajah bulat
Aku, hanya bertepi sepi, gadis tanpa nama
Ya, aku tak mendapatinya, gadis tanpa nostalgia

Cermin

*terinspirasi dari sebuah cermin pecah
Kata kau singgasana, kata-ku itu penjara
Geram dan gertak dilihat, aku terpaku
Sudut-sudut kaca, kamuflase, tak bisa dilihat
Segi-segi jujur sendiri, ku tikam dalam dua dimensi beda
Nafas-ku sudah mulai memburu cepat
Petisi pribadi, di balik pecah, ada selipan bisu
Gila! Ku pikir sejenak, sejentik jari menghantam saraf wajah
Kornea mata, koneksi neuron-ku tak stabil
Merangkak saja, sudah tak pikir bisa
Tetes peluhku tak sadari, mulai pandang sisi pecah lain
Pecah! Ya! Aku pecah! Ketika, pandang singgasana balik sana
Riasan palsu, muka-muka gusar, tampak samar
Kuseret sedikit langkah, jelas! Gumam-ku jelas
Langkah kuseret (lagi) ke singgasana semu
Penjara-penjara klise di sana