Tampilkan postingan dengan label gundah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gundah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Juli 2014

Garindin dan Geradi

*terinspirasi dari ikatan-ikatan semu
Lepas! Aku garit sederhana
Gawal! Ah, aku ganyang semata
Gayut! Lalu, menggeragas sisa-sisa diri
Dalam lunar, kita haru
Ketika pelacur jiwa, berlari mengejar bayang tawa tangis
Ya! Ini maknawi!
Dalam garindin dan geradi, mengurung sukma
Mereka jahat dalam siksa
Ya! Aku mempermalukan sajak dan lirik sendiri
Hanya menangguk harap dari sudut sunyi
Ah, aku dalam garindin dan geradi, layak borgol
Terkurung, ya! Hanya dikurung
Ya! Dikunci, sukma-ku tidak tapi
Jengah saja
image
Depok, 30 Mei 2014 hanya malam

Tertikam

*terinspirasi dari efek endorfin
Celoteh dalam bait
Desahan malam
Curiga-ku dalam dimensi waktu
Wibawa berbalut malu
Dalam makna-makna semu
Ah, aku tertikam dalam asa
Resah berbaut harap
Ya! Aku tertikam dalam rasa
Asa, harap-ku merindu dia
Curahan dia, membalut rasa pedih-ku
Pertama kali, aku bahagia
Gundah gulana serasa gulali
Manis kata lidah-ku, memberi efek endorfin pada diri-ku
Ya, aku tertikam, tertikam dalam rindu pada dia
image
Depok, 29 Mei 2014, dalam tikaman rindu

Ratu dan Catur

*terinspirasi dari papan catur dan seorang wanita
Luluh lantak, gemilang sirna
Guruh, ilusi, menyahut sembari bisik
Tindih fajar, membilang lembayung
Jingga rasa, biru gulali, campur terjang
Arah entah menyebut ke mana, singkapan surya terik merasuk kulit
Kelam resahnya, menggurita rindu
Ah, aku bidak caturnya, menggeser budak
Menyilang kuda, merajuk menteri
Kilahku, ratu apakah dia?
Ya, dia ratunya, gemilang semata
Guntingan memori, sinaps di otak-ku terkoneksi
Amigdala mengejang, ya! aku di dalam pucuk emosi
Pikiran kalut, sejajar dengan pujangga sendiri
Undur-ku bisa, menerjang rasa, merebut ratu
Ya, aku memang di ujung rasa
Apakah engkau ratunya?
Aku durjana

Bilik Nelangsa

*terinspirasi dari dinding-dinding kamar-ku
Sayup, gemuruh, mereka fiksi
Lari berlari, peluh menanti, serbu sendi-sendi
Ketika dawai, apalagi resah, menatap enggan
Kelu, bisa saja, langkah kaki terbata-bata
Aku bakar saja rindu, dia tidak lagi semu
Jingga dirasa, risau, risalah jika gentar
Menatap magnetik kusam, tertegun, aku ambigu
Kepongahan, firasat, pikirku jelas, pekik hujan sirna
Elegi bisu, detik magnetik, sisa angkuh sudah
Miris saja dia, fantasi mengalahkan ego, aku jingga
Rusuk sukma, pati jiwa, semua di bilik nelangsa
image