Minggu, 07 November 2010

Hubungan antara Attitude, Perkembangan Kepibadian, Negatif Moral, dan Goal of Education



Seberapa besar kemungkinan keterkaitan aspek attitude dan negatif moral terhadap Goal of Education? Attitude, perkembangan kepribadian, dan negatif moral saling berhubungan karena ketiga aspek tersebut berasal dari substansi yang sama dari sisi internal diri manusia. Goal of education berasal dari aspek ekternal dan dipelajari secara empiris.
Negatif moral dapat berimplikasi terhadap pendidikan moral (Fritz Ozer). Negatif moral menghambat progres terhadap pendidikan moral yang diajarkan di lingkungan primer dan sekunder. Lingkungan primer adalah tempat seseorang lahir yaitu keluarga sedangkan lingkungan sekunder adalah tempat seseorang bertumbuh dan berinteraksi dengan individu lain. Apabila pendidikan moral di lingkungan primer ini bersifat positif atau kondusif serta implikatif terhadap pribadi seseorang maka negatif moral dapat dihambat.




Negatif moral berasal dari pengalaman moral yang bersifat negatif (R. Blakeney, & Reich, 2003). Di sisi lain, pengalaman moral negatif memberikan pemahaman positif. Seorang manusia dapat belajar dari proses empiris selama mengalami prose-proses yang negatif tersbeut. Mereka bisa mengambil esensi di balik hal negatif tersebut dengan tujuan mengubah hal yang negatif menjadi positif.
Dikutip dalam buku Conflict , Contradiction, Contration Elements in Moral Development and Education disebutkan bahwa pengalaman negatif adalah sebagai cara untuk mengekspresikan sebuah kebutuhan epistemologi (Wittgeinstein 1990). Untuk mengetahui apakah sesuatu itu kita juga harus tahu apa yang tidak seharusnya diketahui juga. Mengartikan bagaimana sesuatu berfungsi kita juga harus tahu apa pencegahan dari suatu fungsi tersebut. Untuk mengetahui apa yang akan dilakukan kita juga harus tahu apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Untuk mengetahui suatu strategi bekerja kita juga harus tahu apa juga yang mana strategi yang tidak bisa digunakan.

Pengalaman moral adalah sebuah protektor yang baik dibanding kesalahan-kesalahan moral kita sendiri melalui konsep negatif moral dan situasinya sendiri. Situasi di sini diartikan sebagai hasil pengalaman yang disebut norma. Norma lahir dari proses pembelajaran dari pengalaman negatif yang membuat manusia harus membuat sebuah tatanan atau sebuah pengaman perilaku-perilaku negatif tersebut. Situasi tadi yang membuat kita mengambil keputusan. Situasi yang dimaksud di sini adalah lingkungan. Betapa besarnya pengaruh lingkungan tehadap keterkaitan antara pengembangan moral, pendidikan moral, dan negatif moral yang lahir dari kurangnya kedua aspek awal tadi.
Dikaitkan dengan pengembangan moral di kalangan pelajar. Pengembangan moral yang diajarkan dalam akademik pelajar belum memberikan implikasi yang baik bagi mereka. Pencapaian tingkatan moral yang lebih tinggi dalam dunia pendidikan masih bersifat dilematis. Seolah-olah pengembangan moral yang baik masih mencari jati diri yang valid, solid dan sesuai integritas. Betapa tidak, masih banyaknya jumlah pelaku negatif moral di kalangan pelajar sebagai akibat pengembangan dan pembelajaran moral yang kurang baik. Bisa dibilang pengembangannya hanya sekadar. Mereka lebih diajarkan ke arah pengembangan kognisi yaitu kepintaran dan kecerdasan. Bagaimana berhitung matematis, fisika, dan teori-teori.Ha ini menunjukkan ketimpangan struktur dalam pengembangan moral dan aktualisasi diri. Dan ujung-ujungnya pembelajaran moral terhadap mereka tidak perspektif terhadap moral mereka.

Lalu apakah attitude itu? Attitude adalah disposisi untuk menanggapi secara menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap sebah objek, orang, institusi, atau peristiwa. Attitude sendiri memiliki 2 tanggapan umum yaitu tanggapan langsung terhadap orang lain dan tanggapan langsung terhadap diri individu sendiri. Kedua tanggapan ini memberikan evaluasi yang bersifat positif dan negatif. Hubungannya dengan negatif moral terletak pada tanggapan yang bersifat negatif. Tanggapan yang bersifat negatif sebagai hasil dari evaluasi tadi bisa menjadi moral yang negatif karena dilakukan secara periodik dan terbudayakan bagi orang yang terus melakukan tanggapan-tanggapan yang negatif baik itu terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain di lingkungannya.

Dalam buku Teori-Teori Sifat dan Behavioristik Psikologi Kepribadian 3 yang mengutip pernyataan Allport menyebutkan bahwa kepribadian adalah organisasi yang dinamik dalam individu atas sistem-sistem psikofisis yang menentukan penyesuaian dirinya yang khas terhadap lingkungan. Oganisasi dinamik di sini bisa diartikan bahwa kepribadian manusia terus berkembang dan dinamis. Psikofisis dimaksudkan bukan hanya dalam mental namun jugdalam hal neural. “Menentukan” di sini berarti kepribadian terdiri dari kecendrungan-kecendrungan menentukan yang memainkan peranan aktif dalam tingkah laku seorang individu. Seperti yang dijelaskan di atas jelas bahwa kepribadian memegang peranan penting seorang individu menentukan sikap mana yang akan dilakukan. Hal ini tergantung dari sisi mana kepribadian seseorang itu berkembang dari sisi negatif atau sisi positif-kah. Perkembangan individu dalam sisi negatiflah yang memberikan perkembangan moral yang negatif pula. Hal ini juga menghambat perkembangan moral positif dan bisa membuat Goal of Education tidak tercapai. Agar tercapainya Goal of Education juga harus mempelajari bagaimana mengembangkan kepribadian yang bersifat dinamis tadi. Mempertimbangkan cara-cara bagaimana kepribadian yang dinamis dan bersifat positif dapat mengembangkan moral positif juga dan sebagai hasilnya adalah negatif moral dengan sendirinya akan tereliminasi.

Watak adalah kepribadian yang dievaluasi dan kepribadian adalah watak yang dievaluasi (Allport, 1937). Pernyataan pertama memiliki arti bahwa watak itu adalah bagaimana orang lain memandang terhadap diri kita dan mempunyai hasil penilaian tersebut terhadap diri kita. Berbanding terbalik dengan pernyataan kedua yang memiliki arti bahwa bagaimana kita menilai diri sendiri atau melihat ke dalam diri sendiri bagaimanakah kita menurut versi kita sendiri. Negatif moral juga lahir dari cara pandang atau citra negatif yang diberikan oleh orang lain maupun diri kita sendiri. Secara konseptual , penilaian yang baik akan meningkatkan aspek positif yang ada dalam diri kita sedangkan penilaian negatif akan membentuk kepribadian yang negatif pula.
Di dalam kepribadian juga terdapat aspek temperamen (Allport, 1937). Temperamen ini dalam perkembangannya berubah sedikit sekali karena dipengaruhi faktor biologis atau fisiologis. Bisa dibilang jika dikaitkan dengan aspek negatif moral, aspek temperamen yang negatif akan melahirkan negatif moral tadi. Sebagaimana teori Gallen yang menggolongkan empat macam tipe kepribadian. Kepribadian yang meledak-ledak contohnya bisa membawa pada aspek negatif yang menghambat seorang individu mencapai Goal of Education.
Dengan education kita sebenarnya bisa menghambat proses perkembangan negatif moral. Goal of Education bertujuan agar manusia menjadi manusia yang tidak hanya terdidik otaknya tetapi juga terdidik sikapnya. Secara konseptual, education terbagi dua. Pertama, education sebagai instrumen untuk dua aspek yaitu promosi sesuatu hal yang baik terhadap komunitas suatu individu dan sebagai persiapan untuk kehidupan dewasa kelak. Kedua, sebagai kesatuan intstrinsik yang menyeluruh. Hal in menunjukkan seorang individu dengan tahap kedewasaan mereka dapat memilah sisi positif dan sisi negatif dari suatu tindakan. Mereka bisa melakukan proses degradasi terhadap apa yang sebenarnya tidak boleh dilakukan dan mana yang harus dilakukan.
Education yang baik dilakukan sejak masa kecil karena kecendrungan seorang anak memahami sesuatu dan mengenai sesuatu langsung diserap karena hal ini dijadikan sebagai pengalaman awal mereka. Mereka mungkin tidak sepeka orang dewasa tetapi mereka menangkap pengalaman awal sebagai sebuah acuan untuk melakukan suatu tindakan. Goal of Education berperan penting di sini dalam membentuk kepribadian, attitude, perkembangan moral, dan pencegahan terhadap negatif moral yang timbul dari ketidaksiapan seseorang dalam melakukan proses empiris dalam dunia pendidikan. Atau memang sistem akademis yang menekankan perkembangan moral, atitutude, dan kepribadian akan menjadi sebuah kekuatan yang bersifat regulatif yang bisa mengubah struktur cara berpikir seseorang terhadap pendidikan moral yang ada di lingkungan.
Dengan harapan ke semua di atas dapat mendukung tercapainya Goal of Education. Dengan sebuah education sebuah bangsa dapat menjadi bangsa yang bermoral walaupun masih adanya perkembangan aspek negatif sebagai akibat tidak sempurnanya proses sosialisasi oleh individu

DAFTAR PUSTAKA
Hall S., Calvin dan Lindzey, Gardner. (1978). Theories of Personality. (Terj. Suprotiknya, Dr. A (ed.). (1993). Psikologi Kepribadian 3, Teori-Teori Sifat dan Behavioristik) Jakarta: Kanisius.
Nucei, Larry. (2005). Conflict, Contradiction, and Contration Elemens in Moral Development and Education. New Jersey dan United State: Lawrence Eribaum Associates Inc..
Ajzen, Icek. (2005). Attitude, Personality, and Behavior. Copyright Licensing Agency Ltd. Of 90 Totthenam Courd Road, London.
Tooley, James. (2000). Reclaiming Education. London: British Library Catalouging in Publication Data, Great Britain by Biddles Ltd., Guidford and King’s Lynn.

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Follow by Email