Jumat, 25 Februari 2011

TUGAS PSIUM 2

Tugas Kelompok 11 
LAPORAN PSIKOLOGI UMUM II
Fakultas Psikologi UI



DISUSUN OLEH :

 AKHMAD SYOFWANDI/ 1006770192

AGGATHA RIANY PAKAYA/ 0906553665
M. FAJRI/ 100668976




Hearing and Balance

Ringkasan film Human Sense


Dari film Human Senses, kita bisa mengetahui ada banyak kegunaan dari indera pendengaran. Pertama, kegunaan indera pendengaran adalah untuk menjaga manusia dari bahaya. Di dalam film ini dapat kita lihat melalui contoh penelitian Mark terhadap Sarah yang membuktikan bahwa saat manusia tidur semua indera yang dimiliki manusia menjadi tidak responsif, kecuali indera pendengaran. Indera ini masih tetap bekerja dan menangkap gelombang-gelombang suara serta bahaya yang mungkin terjadi. Mark memasang suatu alat pada kepala Sarah yang tidur untuk mendeteksi REM (Rapid Eye Movement). REM menjadi tanda bahwa Sarah sedang bermimpi. Maka setelah Sarah mengalami REM, Mark memasang beberapa stimulus suara yang berbeda-beda secara bergantian. Suara yang pertama adalah suara burung camar. Dua sampai tiga menit kemudian Mark membangunkan Sarah dan menanyakan apa mimpi yang dialami oleh Sarah. Ia mengatakan bahwa dalam mimpinya ia sedang berada di daerah perbukitan. Mimpi yang dialami Sarah berhubungan dengan burung camar. Sama seperti percobaan kedua yang menggunakan suara sirine, mimpi Sarah berhubungan dengan suara sirine. Sarah melihat ambulans, gedung terbakar, dan asap dimana-mana. Telinga yang tetap waspada inilah yang menjaga manusia dari bahaya, bahkan saat ia tidur. Hal ini juga sama ditemukan dalam penelitiaan terhadap perilaku monyet. Dalam penelitian ini, sekumpulan monyet pada malam hari yang sedang tidur, yang memiliki indera pendengaran yang mirip dengan manusia, akan mengandalkaan indera pendengarannya untuk melindungi diri dari bahaya yang akan mengincarnya seperti ular. Dalam kehidupan sehari-hari saat kita ingin melewati rel kereta api, indera pendengaran kita menjadi lebih waspada terhadap suara kereta api yang akan lewat. Apabila suara kereta terdengar ‘dekat’, kita tidak akan menyeberangi rel tersebut karena dapat membahayakan diri kita sendiri.


Kedua, fungsi dari indera pendengaran adalah dapat mempengaruhi emosi yang dirasakan oleh manusia. Dalam film ‘Human Senses’ ini, diperlihatkan contoh ketika manusia sedang terapung di tengah-tengah ikan hiu dan diberikan efek suara yang berbeda. Efek suara pertama adalah suara yang ‘menyeramkan’ dan ‘mendebarkan’ sehingga membuat emosi dan suasana hati manusia yang sedang terapung itu menjadi takut terhadap ikan hiu di sekelilingnya, sedangkan ketika efek suara kedua diperdengarkan (suara musik yang gembira), emosi dan suasana hati manusia yang sedang terapung itu menjadi gembira dan perasaan takut pun hilang. Contoh kedua dapat dilihat pada balita-balita yang diperdengarkan suara musik yang up-beat ,ketika mendengarkan suara tersebut balita-balita akan langsung bergerak mengikuti irama musik yang ada. Hal ini tidak hanya terjadi pada balita saja, tetapi hal ini juga berlaku terhadap orang-orang dewasa. Seperti yang diperlihatkan dalam film ini, ketika mereka diperdengarkan dengan berbagai genre lagu. Apabila lagu yang up-beat, secara tidak sadar mereka akan langsung bergerak mengikuti irama musik dan apabila diperdengarkan lagu slow, mereka akan merasa rileks. Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa sadar kita sering merasakan fungsi pendengaran ini. Misalnya ketika kita menonton film di bioskop. Film yang kita tonton tentunya memiliki sound effect yang secara tidak sadar membuat kita terpengaruh ketika mendengarnya. Ketika menononton film horror yang memiliki sound effect yang ‘menyeramkan’, kita pasti merasa takut. Sebaliknya, ketika kita menonton dengan film yang memiliki sound effect yang ceria, kita juga merasakan keceriaan dalam film tersebut.

Ketiga, indera pendengaran mempunyai fungsi persepsi seksual. Dalam hal ini, suara yang didengar oleh para partisipan tanpa melihat si pembicara mempengaruhi persepsi gambaran partisipan mengenai penampilan dan karakteristik si pembicara. Ketika diperdengarkan dengan suara yang memiliki pitch suara rendah, para partisipan langsung mempersepsikan bahwa suara tersebut dimiliki oleh pria yang memiliki karakteristik maskulin dan seksi. Sedangkan, ketika diperdengarkan suara wanita yang serak, para partisipan mempersepsikan bahwa sumber suara tersebut dimiliki oleh wanita yang berpenampilan menarik dan disukai kaum pria. Tidak hanya manusia yang memiliki persepsi seksual melalui indera pendengaran mereka. Hewan pun demikian, contohnya Paus Bungkuk dari Hawaii. Paus-paus jantan ini mengeluarkan suara yang dapat menarik perhatian paus-paus betina, melalui suara tersebut Paus Bungkuk jantan akan menemukan Paus Bungkuk betina sebagai pasangan untuk bereproduksi. Hal ini juga terjadi pada buaya, mereka juga menggunakan suara yang berat untuk menarik pasangannya. Pada manusia pun demikian. Kita mungkin pernah mengalaminya, ketika kita sedang fokus berjalan dan di belakang kita terdengar suara berat yang mengatakan permisi. Sekilas yang terbayang dalam benak kita adalah pria yang tinggi besar dengan perawakan maskulin. Hal ini menunjukan bahwa suara cukup kuat untuk membuat kita mempersepsikan figur si pemilik suara.

Keempat, di dalam indera pendengaran terdapat sistem keseimbangan. Di telinga bagian dalam, terdapat vestibulum yang berfungsi layaknya ekor pada hewan, untuk menjaga keseimbangan tubuh. Vestibulum berhubungan dengan otak kecil (cerebellum), pusat pengaturan keseimbangan tubuh di otak. Selain itu di otak juga terdapat saluran setengah lingkaran (semicircular canal), yang berisi cairan pengatur keseimbangan. Sebagai contoh cara kerja semicircular canal, jika kita berputar-putar di tempat untuk beberapa waktu lalu berhenti, maka kita akan merasa pusing dan kehilangan keseimbangan. Hal ini disebabkan karena cairan dalam semicircular canal masih bergerak saat kita berhenti berputar. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini bisa dirasakan ketika kita menaiki komedi putar. Selesai bermain komedi putar, kita sering merasa mual dan pusing, meski sudah selesai bermain di wahana tersebut. Hal ini menunjukan bahwa organ keseimbangan kita belum siap berhenti bergerak seperti keadaan sebenarnya. Hal ini menyebabkan bertabrakannya informasi yang diterima ke otak sehingga membuat keseimbangan kita menjadi terganggu.

Hearing

Hearing adalah salah satu sensasi yang dilakukan oleh alat indra yaitu indra pendengaran (telinga). Tiga struktur telinga : telinga bagian dalam (inner ear), telinga bagian tengah (middle ear), dan telinga bagian luar (outer ear). Diantara tiga bagian telinga tersebut yang bertanggung jawab dalam menjaga keseinmbangan adalah telinga bagian dalam (inner ear).

Dalam proses pendengaran yang diterima oleh telinga kita adalah gelombang suara yang diterima oleh telinga bagian luar yang dimulai dengan daun telinga menangkap gelombang suara yang berada disekitar kita kemudian gelombang suara ini dihantarkan melalui saluran pendengaran (auditory canal) hingga gendang telinga (eadrum). Panjang auditory canal ini sekitar 1 inci. Auditory canal ini meresonate suara yang dihantarkan sehingga suara tersebut bertambah keras. Suara tersebut akhirnya direspon oleh eadrum dan eadrum mengubah tekanan suara sehingga menggerakan tiga tulang telinga dibagian tengah; malleus (hammer), incus(anvil),stapes(stirrup). Suara yang diamplifikasi di telinga bagian tengah diteruskan oleh cairan didalam koklea atau tempat yang berupa rumah keong didalam telinga bagian dalam. Didalam koklea terdiri beberapa kanal yang dibatasi oleh membran basilar. Pada membran basilar ini terdapat hair sel yang kemudian digerakan oleh cairan tadi dan memicu saraf impuls. Proses terakhir adalah pesan tersebut disampaikan melalui saraf auditory (auditory nerve) ke batang otak sehingga kita mensensasikan suatu bunyi.



Balance

Balance atau keseimbangan adalah kemampuan mempertahankan kesetimbangan tubuh kita ditempatkan diberbagai posisi atau kemampuan relatif untuk mengontrol kemampuan massa tubuh (center of mass) atau pusat gravitasi (center of gravity) terhadap titik tumpu (base of support). Menurut definisi para ahli O’Sullivan:” keseimbangan yaitu kemampuan mempertahankan pusat gravitasi pada bidang tumpu terutama ketika posisi kita dalam keadaan tegak. Ann Thompson : “ Kemampuan mempertahankan tubuh dalam posisi kesetimbangan maupun dalam keadaan statik atau dinamik, serta menggunakan aktifitas otot yang minimal.

1. Tujuan
• menyanggah tubuh untuk melawan gravitasi dan factor eksternal lain
• mempertahankan pusat massa tubuh agak seimbang dengan bidang tumpu
• menstabilisasi bagian tubuh ketika tubuh lain bergerak.


2. Macam Keseimbangan
• Kesimbangan statis adalah kemampuan tubuh untuk menjaga kesetimbangan pada posisi tetap . contohnya ketika berdiri dengan satu kaki atau berdiri dipapan keseimbangan.
• Kesimbangan dinamik adalah kemampuan tubuh menjaga kesetimbangan pada saat tubuh bergerak.

3. Komponen Pengatur Keseimbangan
• Sistem Vestibular terdapat ditelinga bagian dalam yaitu organ otolith dan saluran setengah lingkaran (semisirkularis)
• Penglihatan (Visual). Sumber utama utama informasi tentang lingkungan dan tempat kita berada, mengindetifikasi dan mengatur jarak gerak sesuai dengan lingkungan atau tempat kita berada.
• Otot dan Sendi. Mempertahankan postur atau posisi dan memungkinkan untuk melakukan gerakan dan aktifitas.


• Aplikasi lain dalam kehidupan sehari-hari.


Hearing

1. Ketika kita menonton film di bioskop. Film yang kita tonton tentunya memiliki sound effect yang secara tidak sadar membuat kita terpengaruh ketika mendengarnya. Ketika menononton film horror yang memiliki sound effect yang ‘menyeramkan’, kita pasti merasa takut. Sebaliknya, ketika kita menonton dengan film yang memiliki sound effect yang ceria, kita juga merasakan keceriaan tersebut.

2. Ketika kita sedang fokus berjalan dan di belakang kita, terdengar suara berat yang mengatakan permisi. Sekilas yang terbayang dalam benak kita adalah pria yang tinggi besar dengan perawakan maskulin. Hal ini menunjukan bahwa suara cukup kuat untuk membuat kita mempersepsikan figure si pemilik suara

3. Ada suatu penelitian yang menemukan bahwa music membantu pertumbuhan yang lebih baik pada bayi premature, dimana lagu-lagu yang tenang seperti music jazz dan musik instrument yang tenang diperdengarkan pada bayi premature ini selama 40 menit setiap hari, dan dalam hari ke-4 pemeriksaan bayi premature yang diperdengarkan music meningkat berat badannya, detak jantungnya menjadi lebih kuat premature yang diperdengarkan musik meningkat berat badannya, detak jantung menjadi lebih kuat dibanding yang tidak mendengarkan musik.

(http://www.infoibu.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=70)

4. Penelitian membuktikan bahwa musik, terutama musik klasik sangat mempengaruhi perkembangan IQ (Intelegent Quotien) dan EQ (Emotional Quotien). Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik. Yang dimaksud musik di sini adalah musik yang memiliki irama teratur dan nada-nada yang teratur, bukan nada-nada "miring". Tingkat kedisiplinan anak yang sering mendengarkan musik juga lebih baik dibanding dengan anak yang jarang mendengarkan musik.(http://www.balita-anda.indoglobal.com/pengaruhmusik.html)

5. Eksperimen dan penelitian lainnya dilakukan Dorothy Retallack, seorang musisi profesional, tahun 1970 di Temple Buell College, Colorado terhadap tanaman. Hasilnya, tanaman labu yang distelkan musik klasik, tumbuh dengan baik ke arah radio dan batang-batangnya mulai melingkari radio. Sedangkan pohon labu yang diletakkan di ruangan musik rock tumbuh menjauhi radio, seolah-olah menjauhi tembok.
(http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1104/26/renungan_jumat.htm)

• Teori-teori yang mendukung

Dari teori frekeuensi juga menguatkan pendapat bahwa pengalaman suara yang realistis atau nyata dapat diperoleh dengan menempelkan sebuah perekam mikrofon dekat dengan saluran pendengaran kita di tiap telinga. Ini akan membuat suatu ingatan tentang suara tertentu yang kita dengar tersebut( Sakamoto, Gotoh, &Kimura, 1971).
Ketika kita sedang berdiri dan arah datangnya musik ada tepat di hadapan kita sebenarnya telinga kiri lebih cepat menangkap gelombang music tersebut. Pada saat kita mendengar suara musik tersebut, waktu reaksi pendengaran suara musik lebih cepat diterima di telinga kiri dibanding telinga kanan (Kallman & Corballis, 1975). Sama halnya pula pada saat mendengar tape dengan 2 sound system di kanan dan kirinya. Apabila kita berdiri tepat di antara 2 sound system tersebut maka kedua speaker tersebut akan memberikan stimulus dalam waktu yang sama karena memilik jarak yang sama ke telinga. Namun, apabila kita condong ke arah kanan yaitu lebih dekat dengan speaker yang kanan maka telinga akan terstimulus hanya mendengar suara yang berasal dari sound sytem yang kanan tersebut. Pada saat yang bersamaan, suara sound sytem dari kiri tidak terdengar oleh kita. Hal ini dikarenakan sound system yang kiri mengalami perlambatan penghantaran stimulus per satuan waktu yaitu beberapa millisecond keterlambatan disbanding telinga kanan. Peristiwa ini berhubungan dengan
Precedent Effect atau Efek Kedekatan.

Ada fakta yang menarik di mana saya sering mendengarkan walkman dengan earphone. Saya mencoba memasang salah satu earphone dulu ke telinga kiri yang memberikan stimulus berupa suara yang keras. Setelah itu, saya membandingkan dengan earphone yang kanan. Ternayata terdapat perbedaaan loudness earphone kanan dan kiri. Earphone kiri terdenar lebih keras dibanding yang kanan. Dalam buku Sensation and Perception an integrated approach yang ditulis Harvey Richard Schiffman disebutkan bahwa keakuratan telinga kanan dalam menerima stimulus gelombang suara lebih baik dibanding yang kiri (Kimura & Folb, 1968). Menurut persepsi saya, para pembuat earphone tersebut memang mendesain earphone yang memiliki tingkat resiko yang rendah. Kenapa demikian? Menurut saya, telinga kiri memang tak seakurat telinga kanan, jadi para pembuat walkman melakukan proses penyeimbangan penerimaan stimulus antara telinga kanan dan telinga kiri. Pada saat, saya memakai earphone yang sama kerasnya bagian kanan dan kirinya membuat indera keseimbangan saya agak terganggu. Saya mejadi pusing mendengarkan suara yang sama loudnessnya

Dalam buku ini juga disebutkan dalam mempersepsikan suara di telinga, tergantung pada intensity dan loudness sebuah suara. Ketika kita mendengar suara yang lebih keras, kita mempersepsikan sumber suara tersebut berada dekat dengan tempat kita berada. Begitu juga sebaliknya. Jika 2 suara diperdengarkan secara bersamaan, maka suara yang lebih keras dipesepsikan dengan kita.

Doppler Shift

Dicontohkan dalam peristiwa Sonic Boom. Pada peristiwa ini, kecepatan pergerakan sumber suara lebih cepat dibandingkan kecepatan suara.

Loudness merupakan bagian dari aspek pengalaman. Apabila kita pernah mendengar suara yang keras itu akan masuk sebagai pengalaman indrawi yang tertangkap oleh telinga dan dikirimkan impuls saraf ke otak sebagai suatu hal diingat. Hubungan antara loudness dan intensity adalah hubungan yang tidak sempurna dan kompeks. Maka dalam mempersepsi loudness suara tidak berkaitan dengan kekuatan fisik atau intensity tersebut. Namun intensity memiliki keterkaitan dengan Psychological Dimension of Loudness dari sebuah suara( Steven, 1956). Hubungannya adalah intensity menghasilkan proporsi peningkatan yang lebih lambat dan rendah dalam tingkat kekerasan suara.

Balance

Anak juga perlu berlatih keseimbangan tubuh, misalnya dengan kegiatan meniti, melompat, dan berjingkat. Semua gerakan ini dapat dilakukan anak, antara lain melalui kegiatan bermain, olahraga, maupun senam. Saat belajar keseimbangan tubuh ini, juga merupakan kesempatan berpikir dan bereksplorasi. Ketika si kecil akan menaiki tangga misalnya, ia dituntut berfikir, bagaimana harus menempatkan kaki, tangannya, serta menimbang berat tubuhnya agar tak terjatuh. Proses berfikir tersebut, kata Henny, secara langsung melatih daya pikir anak
(http://www.geocities.com/bloganak06/anak/PentingnyaKeseimbanganTubuh.doc)

Keseimbangan yang harus dilakukan ketika melakukan senam, seperti hand stand, kop stand, sikap lilin, dan sikap pesawat terbang. Seorang penari balet harus bisa menjaga keseimbangan badannya ketika ia atau mereka harus berdiri dengan menggunakan ujung kakinya atau berdiri dengan satu kaki.

Apabila kita sedang melakukan kegiatan tertentu dengan posisi bukan berdiri (duduk, tidur, dan jongkok) untuk waktu yang lama, kemudian tiba-tiba kita berdiri untuk berjalan, kita akan merasa pusing dan harus berdiri diam terlebih dahulu selama beberapa saat untuk menghilangkan rasa pusing tersebut. Hal ini terjadi karena otak sudah memrogram kegiatan yang sedang kita lakukan tersebut karena kita melakukan gerakan yang tiba-tiba (berdiri untuk berjalan), otak harus terlebih dahulu menyiapkan perintah baru (berdiri), untuk menggantikan perintah yang lama (duduk, tidur, dan jongkok).

Seorang pemain skating juga harus memiliki keseimbangan tubuh yang baik ketika mereka harus meluncur di atas es dan ketika mereka menunjukkan atraksinya. Seorang pesenam atau pemain akrobat sirkus harus memiliki keseimbangan tubuh yang baik ketika mereka harus melakukan atraksi-atraksi yang menuntut keseimbangan amat tinggi.



KESIMPULAN

Hearing memberikan banyak pengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya pada kehidupan sex, emosi. Pada saat kita tidur pun telinga kita tetap bekerja untuk menangkap stimulus gelombang suara, yang akan berpengaruh nantinya terhadap mimpi kita.

Seorang balita membutuhkan latihan yang keras untuk mencapai keseimbangan pada saat dia berdiri dan berjalan. Kesembangan pada manusia dipengaruhi oleh pendengaran, penglihatan dan anggota tubuh lainnya. Apabila salah satu dari faktor tersebut tidak ada, maka akan mengganggu keseimbangan pada manusia.





DAFTAR PUSTAKA

Film Human sense : Hearing and Balance(eps.2)
Wortman, Camile, B, et. al. (1999). Psychology fifth edition. United State: the Mc.Graw-Hill companies.
Schiffman, H. R., (1982). Sensation and Perception: and integrated approach. Rutgers State University: VJV Publication
http://www.infoibu.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=70
http://www.balita-anda.indoglobal.com/pengaruhmusik.html
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1104/26/renungan_jumat.htm
http://www.geocities.com/bloganak06/anak/PentingnyaKeseimbanganTubuh.doc.
http://id.search.yahoo.com/search/images?p=%27inner+ear%27&ei=UTF-8&fr=yfp-t-img&x=wrt
http://www.medicineNet.com
Ciccarelli, Saundra K. dan J. Noland White. 2009. Psychology. New Jersey: Pearson Prentice Hall
http://physio.indonusa.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=115:keseimbangan&catid=93:fisioterapi-neuromuskular&Itemid=80 (diunduh: 17 Februari 2010, 18:29 WIB)
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Follow by Email