Rabu, 13 April 2011

Analisis Kreativitas Kelas IPK

IPK kelas B
Ketua Kelompok: M. FAJRI(1006689076)
Anggota : Irma Adlina Suryabrata (1006688962)
: Dyah Ayu Kartika K (1006688804)
: Fatima Zahra (1006688880)
: Cinintya Putri (1006688722)
: Diaz Syafitri Risdiani (1006711630)




Ole Kirk Christiansen
 Biografi singkat
Ole Kirk Christiansen adalah anak ke13 dari sebuah keluarga miskin di Jutland, Denmark.. Ia memiliki kemampuan dalam bidang pertukangan khususnya dengan kayu. Ia membeli sebuah toko pembuat kayu pada tahun 1916 di Billund yang sudah lama beroperasi. Kemudian ia beralih untuk membuat mainan dari kayu. Awal mula Ole Kirk membuat mainan masih belum dapat dipastikan apakah memang menjadi keinginannya sendiri atau mendapat inspirasi dari pemerintah tetapi para pekerjanya memberikan dorongan agar ia mengubah perusahaannya menjadi perusahaan pembuat mainan. Namun, sejak ia membuat mainan, ia tidak pernah mau membuat mainan perang dan lebih memilih untuk membuat mainan anak yang tidak bernuansa kekerasan. Ia bekerja dengan anak-anaknya, salah satunya bernama Godtfred Kirk Christiansen yang kemudian menjadi penerus perusahaannya. Pembuatan mainan awalnya hanya berbentuk seperti truk, mobil, dan celengan berbentuk babi. Karena kondisi yang kurang menguntungkan, terkadang mainan Ole Kirk hanya ditukarkan dengan bahan makanan maka ia tetap memproduksi furnitur-furnitur yang praktis sebagai penjualan sampingannya. Kemudian ia membuat yo-yo, dimana ia bersama anaknya Godtfred, dimana ia selalu memanfaatkan sisa pembuatannya sebagai roda truk mainan.

Nama LEGO muncul pada tahun 1934 dari sebuah kontes tertutup antara para pekerja yang diadakan Ole Kirk dengan hadiah sebotol wine. Kontes tersebut adalah kontes untuk menemukan nama yang tepat bagi perusahaan. Terdapat dua pilihan (keduanya dibuat oleh Ole Kirk sendiri) yaitu Legio (dengan maksud Legion of Toys) atau Lego (berasal dari bahasa Denmark yaitu leg dan godt yang bila digabung berarti play well). Kemudian terpilihlah Lego sebagai nama perusahaan.

Setelah masa Perang Dunia II, plastik mulai tersedia di Denmark. Melihat peluang bisnis baru, Ole Kirk segera membeli mesin pencetak plastik. Pada tahun itu , 1947, Ole Kirk memulai produksi mainan yang bisa dibongkar-pasang dengan model pertama yaitu sebuah truk. Pada tahun itu pula, Ole Kirk melihat sebuah contoh mainan dari perusahaan Kiddicraft yaitu Kiddicraft Self-Locking Bricks yang merupakan hasil karya dari Hillary Harry Fisher Page yang sudah dipatenkan di Inggris. Ole Kirk memaknai mainan tersebut kemudian membuat bricks yang sama dengan versinya sendiri yang diberi nama Autonomic Binding Bricks dimana ia mempertahankan versi tradisional dari sebuah balok kayu yang dapat disatukan namun dapat dilepas kembali. Muncullah desain yaitu sebuah balok dengan beberapa tonjolan bulat diatasnya dan dengan ruang kosong di dalamnya. Balok inilah yang kemudian dipatenkan dan diberi nama Lego bricks.

Ole Kirk dan Godtfredt kemudian terus mengembangkan produksi balok-balok plastik ini. Uniknya, Ole Kirk memiliki pandangan khusus dalam memproduksi mainan dimana ia tidak pernah dan tidak mau memproduksi LEGO dalam bentuk paket peralatan perang. Ia memandang bahwa paket tersebut tidak baik bila diberikan pada anak-anak, ia tidak ingin anak-anak memandang perang sebagai sebuah “mainan”. Ole Kirk sendiri memiliki moto det bedste er ikke for godt yang berati only the best is good enough. Moto ini menjadi moto LEGO Group hingga kini yang menjadi penyemangat bagi para pekerjanya untuk tidak minimalis dalam mengutamakan kualitas.

Ole Kirk meninggal pada saat LEGO masih mengembangkan Lego bricks dalam hal fleksibilitas dan bahan pembuat balok yang lebih baik. Proses kerja ini kemudian dilakukan oleh Godtfred dimana ia memperbarui bentuk balok LEGO terkait masalah locking dari balok ini.

 Pribadi, Proses, Produk Kreatif
 Pribadi Kreatif
Analisis kami terhadap Ole Kirk Christiansen berdasarkan Investment Theory (Sternberg & Lubart) ialah sebagai berikut:

1. Intellectual abilities (see problems in new ways) dan

2. personality (perseverance, risk taking)
Ketika Ole Kirk tengah mengembangkan produk bricks mainan miliknya, plastik mulai diciptakan dan diperkenalkan di dunia. Saat itu, tidak ada yang berpikir bahwa plastik bisa dibentuk menjadi mainan yang populer, dan sebagian besar mainan yang dijual di pasaran berbahan kayu. Namun Ole Kirk justru melihat ini sebagai peluang yang bagus untuk mengembangkan produk mainannya. Ia pun kemudian membeli mesin pencetak plastik. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki pemikiran yang berbada dari orang lain dan bahwa ia berani mengambil resiko untuk melakukan hal yang baru. Ole Kirk juga konsisten dalam mengembangkan produknya dengan cara mencari bahan yang paling sesuai sebagai bahan dasar.

3. Knowledge : domain knowledge, possibly negative
Ole Kirk memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam dunia furniture sebelum ia mamutuskan untuk membuat mainan-mainan dari kayu yang kemudian menjadi bricks dan menggunakan bahan plastik.
4. Thinking styles : legislative and global

5. Motivation : intrinsic
Ole Kirk membuat lego pada awalnya adalah karena ia ingin membuat mainan yang sesuai bagi anak-anak, yang dapat membangkitkan kreatifitas mereka, dan tidak berbau perang (karena Ole Kirk tidak mau anak-anak menganggap perang hanyalah mainan). Awalnya produk mainan buatannya tidak terlalu digemari dan tidak dihargai tinggi oleh orang lain, bahkan hanya bisa ditukar dengan bahan makanan. Ketika itu, ia mendapatkan uang untuk biaya hidup dari menjual miniatur. Namun ia tetap melanjutkan usaha mainannya karena ia menyukainya.

6. Environment : supports innovations
Awalnya produk mainan buatan Ole Kirk berbahan kayu. Namun mainan yang terbuat dari kayu mudah terbakar, hal ini terbukti ketika pabrik mainan Ole Kirk sempat terbakar. Namun ia ingin tetap mengembangkan produk mainannya. Ketika itulah plastik mulai dibuat, dan plastic memungkinkan Ole Kirk untuk dapat terus mengembangkan produk mainannya. Lalu produk Lego hasil inovasinya pun beredar dan mulai populer.

Sementara berdasarkan jenis pribadi kreatif menurut John Adair, Ole Kirk digolongkan sebagai innovator dan entrepreneur.

 PROSES
Menurut Isaksen, et al. (1993) proses adalah rekonsepsualisasi dinamis yang mengahasilkan perubahan, aksi ataupun produk yang original dan fungsional bagi individu maupun banyak orang. Proses kreatif menurut Wallas (1926) terbagi atas empat tahap dan ditambah satu tahap oleh John Kao sehingga ada lima tahap dalam proses kreatif. Tahap-tahap itu adalah persiapan, inkubasi, iluminasi, verifikasi dan eksploatasi.

Persiapan
Proses persiapan dibagi menjadi dua, yaitu persiapan jangka pendek dan dan jangka panjang. Persiapan jangka pendek deilihat dari bagaimana orang melihat masalah sedangkan persiapan jangka panjang dilihat dari apa yang dilakukan orang tersebut selama ini untuk dapat sukses di bidangnya, misalnya dengan sekolah ataupun pengalaman kerja.

Jangka pendek:
Dalam menjalankan usahanya ini. Ole Kirk sering mendapatkan musibah yang berakibat pada kegagalannya. Sebelum Ole Kirk meninggal pada tahun 1958, telah terjadi dua kali kebakaran di pabrik lego pada tahun 1924 dan 1942, tapi musibah itu tidak membuat Ole Kirk patah semangat. Justru musibah itu memicunya untuk berke,bang lebih baik lagi. Peristiwa kebakaran pada tahun 1924 memicu Ole Kirk untuk lebih serius menekuni bidang yang menggunakan bahan dasar kayu. Hal ini terbukti dengan dibangunnya sebuiah tempat yang cukup besar yang dipakai sebagai tempat kerjanya. Sedangkan pada peristiwa kebakaran di tahun 1942 menyadarkannya untuk memakai bahan baku plastik supaya tidak mudah terbakar.

Jangka panjang:
Semasa kecil, Ole Kirk adalah seorang gembala. Biasanya ia menggembalakan ternaknya dan menghabiskan waktu dengan mengukir-ngukir kayu. Ketika remaja, tepatnya ketika berumur 14 tahun, ia bersama kakaknya bekerja sebgai tukang kayu yang khusus membuat furniture dan peralatan rumah tangga dari kayu. Jadi, ole sudah mempunyai bekal pengalaman untuk membuat mainan kayu yang didapatkan selama ia kecil dan juga ketika ia bekerja.

Inkubasi
Pada proses inkubasi, tokoh kreatif melakukan kegiatan diluar kegiatan utamanya. Dengan kata lain, seorang tokoh kreatif sedang beristirahat dari kegiatannya.
Memang tidak ada penjelasan detil bagaimana Ole Kirk mendapatkan ide-ide tentang lego.semua sumber yang kami dapatkan hanya menginformasikan sumber informasi Ole Kirk tanpa menjelaskan proses detilnya. Misalnya, ketika Ole Kirk memutuskan untuk mengubah focus produksinya dari furniture dan peralatan rumah tangga menjadi mainan anak-anak,. Beberapa sumber mengatakan Ole Kirk mendapatkan ide tersebut dari peraturan pemerintah. Beberapa sumber lain mengatakan ide itu muncul dari anjuran teman-teman di tempat kerjanya. Yang jelas pada proses ini ide tersebut tidak muncul dari buah pikiran Ole Kirk sendiri. Selain itu bentuk lego juga bukan berasal dari buah pikiran Ole Kirk. Ia terinspirasi dari mainan Kiddicraft.
A
da satu sumber yang menyatakan awal terinspirasinya Ole Kirk untuk memakai plastik sebagai bahan baku lego. Seorang salesmanmendatanginya dan menawarkan sebuah mesin pembentuk plastik buatan Inggris. Karena termakan oleh rayuan salesman tersebut, akhirnya Ole Kirk membeli mesin tersebut dengan harga 30.000 DKK, dua kali lipat hasil profit yang didapat pada tahun sebelmunya. Sejak saat itu Ole Kirk membuat lego dengan bahan baku plastik.

Iluminasi
Proses iluminasi adalah kelanjutan dari proses inkubasi. Setelah melakukan kegiatan di luar kegiatan di luar kegiatan utamanya, pikiran bawah sadar seseorang akan terus bekerja sehingga memungkinkan orang kreatif mendapat ide. Proses saat seseorang mendapatkan ide inilah yang disebut proses iluminasi.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Ole Kirk mendapat banyak inspirasi untuk mengembangkan produk lego. Sebelum ia beralih dari produksi furniture dan peralatan rumah tangga, ia mendapat inspirasi dari teman-temannya dan musibah dimana pabriknya terbakar. Dari situ, ia menemukan ide untuk membuat mainan sebagai fokus produksinya.

Konsep lego yang terdiri atas rongga dan tonjolan yang dapat dilekatkan itu pun ia dapat karena terinspirasi dari sebuah mainan yaitu Kidducraft Self-Locking Bricks. Kiddicraft adalah sebuah mainan yang memiliki lubang dan tonjolan seperti pada lego sehingga dapat melekatkan dibubuhi lem. Dari produk inilah maka Ole Kirk mendapat ide membuat lego.

Verifikasi:
Pada tahap verifikasi seorang kreatif akan menguji ulang produknya, apakah produk tersebut berguna dan dapat diaplikasikan ke masyarakat atau tidak.
Dalam perkembangannya, Ole Kirk dibantu oleh anaknya yang bernama Godtfert Kirk. Mereka terus mengembangkan dan mengevaluasi produk legonya. Mereka juga menerima kritik dari para pembelinya sehingga produk ini menjadi semakin baik. Misalnya dalam awal penjualan produk ini dijual dalam keadaan terpisah, tidak berbentuk paket. Atas kritik dari pembelinya yang menginginkan balok lego dijual dalam sebuah paket yang merupakan kombinasi dari balok lainnya dan dapat membentuk suatu bangunan. Evaluasi dan perkembangan produk terus dilakukan untuk menyempurnakan dan membuat para pembeli lego menjadi lebih tertarik untuk membelinya. Mulai dengan diberikan panduan tahap-tahap pembuatan bangunan pada lego di tiap kemasan, peningkatan mutu plastic yang dipakai hingga variasi mainan yang banyak.

Eksploatasi:
Proses eksploatasi adalah sebuah proses kreatif tambahan dari seorang ekonom, John Kao. Ia menyatakan: jadikanlah ‘uang’. Uang yang dimaksud disini dari segi ekonomi memang bermakna denotasi, namun secara umum uang yang dimaksud adalah pemanfaatan produk tersebut menjadi sesuatu yang berguna bagi banyak orang.

Jika dilihat dari makna ekonominya, penjualan lego memang berhasil membuat Ole Kirk menjadi sukses secara financial. Setelah mendapatkan kritik dari pembelinya untuk membuat satu paket lego, maka lego memproduksi set pertamanya (LEGO system of play) yang dinamai Town Play pada tahun 1955. Semenjak itu penjualan lego terus meningkat dan menyebar ke berbagai Negara di dunia.

Jika dilihat dari makna umumnya, penjualan lego memang berguna bagi banyak orang terutama untuk anak-anak sebagai sarana edutainment, pengembang kreativitas dan juga peningkat daya imajinasi anak.

 Produk Kreatif
Besemer dan Treffirger dalam buku Creativity in the classroom: schools of curious delight oleh Alane J. Starko di halaman 398 mengatakan bahwa produk kreatif memiliki 3 karakteristik atau dimensi yang disebut sebagai “Creative Product Analysis Matrix” (CPAM), yaitu:

1. Novelty
Produk Lego Ole Kirk bisa dikatakan cukup baru, tidak hanya karena bahannya menggunakan plastik, tapi juga karena bentuknya yang bermacam-macam, tidak hanya bricks, dengan warna-warna yang cerah. Ole Kirk awalnya terinspirasi oleh konsep perusahaan Kiddicraft yaitu Kiddicraft Self-Locking Bricks, namun kemudian ia mengembangkan sendiri konsep tonjolan dan lubang yang digunakan untuk menyatukan lego.

2. Resolution
Produk Lego juga memenuhi dimensi pemecahan yang berarti sesuai dengan tujuan semula, yaitu membuat mainan untuk anak-anak yang tidak berbau perang dan juga sangat berguna untuk mengasah kreativitas dan imajinasi anak-anak.

3. Elaboration dan Sintesis
Bentuk bendanya, seperti yang telah disampaikan sebelumnya, juga merupakan hal yang baru. Tidak terlalu rumit, namun berwarna-warni cerah yang membuat Lego juga lebih menarik.

Menurut Isaksen, et al (1993) produk adalah: hasil dari sebuah proses yang dilakukan seseorang melalui sebuah media. Produk kreatif adalah hasil yang memiliki sifat-sifat: baru, berguna, lebih baik dan berbeda.

Baru:
Sudah dijelaskan dalam poin novelty

Berguna:
Penemuan lego oleh Ole Kirk memiliki banyak fungsi untuk anak-anak. Lego yang dimainkan secara bongkar-pasang dan dibentuk sesuai dengan keinginan sang pemain dapat meningkatkan kreativitas. Lego juga dapat membantu anak-anak untuk mengekspresikan dunia imajinasi mereka, pengembangan penilaian kritis anak-anak, ketangkasan manual, dan kemampuan berpikir untuk dirinya sendiri. Melihat banyaknya fungsi lego untuk perkembangan anak-anak, dewasa ini lego banyak digunakan sebagai sarana edutainment.

Lebih baik:
Dalam perkembangannya lego selalu berusaha lebih baik. Ole Kirk sendiri selalu menekankan motto bedste er ikke for godt atau only the best is good enough pada setiap karyanya. Lego juga memiliki pesan tersendiri. Disaat mainan di zaman itu didominasi oleh peralatan perang, seperti senapan, tank dan lain-lain, lego tidak dibuat seperti mainan-mainan kebanyakan. Menurut Ole Kirk, mainan diperuntukkan untuk anak-anak dan mainan yang berbau perang tidak baik bagi anak-anak. Oleh karena itu, hingga saat ini pun lego tidak pernah membuat mainan yang berbentuk peralatan perng. Selai itu, penggunaan plastik sebagai bahan baku lego dianggap lebih baik karena dapat mengurangi resiko kecelakaan dan tidak mudah terbakar. Bahan baku plastik yang dipakai dalam pembuatan lego pun mengalami perkembangan sehingga tidak membahayakan anak-anak.
Berbeda:

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, lego adalah mainan baru yang berbeda dari mainan kebanyakan. Lego tidak memiliki cara tertentu untuk memainkannya, cara memainkannya tergantung pada kreativitas masing-masing pemain.
Sepoerti yang pernah disinggung sebelumnya, ide lego muncul karena Ole Kirk terinspirasi oleh permainan Kiddicraft yang merupakan karya Hillary Harry Fisher Page. Namun Ole Kirk membuat versi tersendiri dan menamainya Autonomy Binding Bricks. Pada hasil karyanya ini, Ole Kirk memodifikasinya dengan mengubah ukuran yang digunakan dari inchi menjadi cm dan mm sehingga bentuknya lebih kecil. Ole Kirk juga memperbaiki bagian sudut dari karyanya itu dan memberiunya warna-warna yang cerah supaya lebih menarik.





















REFERENSI

Starko, A. J. (2005). Creativity in the classroom: Schools of curious delight, third edition. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates
Sawyer, R. K. (2006). Explaining Creativity. New York : Oxford University Press
Isaksen, S. G., Murdock, M. C., Firestein, R. L., Treffinger, D. J. (1993). Understanding and Recognizing Creativity: The Emergence of a Dicipline. New Jersey: Ablex Publishing Corporation.
Weisberg, R. W. (2006). Creativity: Understanding Innovation in Problem Solving, Science and the Arts.Canada: Wiley.
http://m31ly.blog.binusian.org/2010/01/09/tugas-kelompok-km-ke-1/
http://hotkaskus.blogspot.com/2010/02/inspirasi-nasib-sial-membawa-kesuksesan.html
http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Lego
http://www.ideafinder.com/history/inventions/lego.htm
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Follow by Email