Senin, 07 Maret 2011

CERITA RAKYAT DI INDONESIA MEMBENTUK POLA PIKIR NEGATIF PADA ANAK-ANAK DAN BAD BEHAVIOR PADA SAAT MEREKA DEWASA


Benarkah cerita legenda-legenda di Indonesia tidak mendidik? Pendidikan memang sebuah hal yang sangat esensial dalam kehidupan manusia. Pendidikan merupakan hal yang harus dilakukan manusia untuk mendapatkan pengalaman serta pembelajaran terhadap diri sendiri. Bagaimana kita dapat melihat manusia itu telah belajar atau tidak? Hal yang sangat menarik tuntuk dibahas memang. Namun, apa pengaruhnya cerita legenda di Indonesia yang sudah turun temurun di Indonesia membentuk pola sikap anak-anak di Indonesia hingga ia dewasa.


Sejak dulu sampai sekarang, pendidikan itu memegang peranan penting. Pendidikan dilakukan untuk menambahkan pengalaman empiris bagi diri seorang manusia. Dari pengalaman empiris tersebut manusia bisa menjalankan kehidupannya. Bermula dari balita, manusia dididik agar dapat berjalan dengan melatih otot-ototnya secara tidak sadar. Seperti konsep tabula rasa yang dicetuskan oleh ...., seorang anak manusia yang baru dilahirkan seperti sebuah kertas putih kosong. Ia tidak mempunyai pengalaman apa-apa, berbeda dengan kertas yang penuh coretan yang sudah diisi berbagai pengalaman. Nah, tujuan pendidikan di sini adalah “mengisi kekosongan” itu. Kekosongan di sini adalah ketidakmampuan manusia tanpa bantuan orang lain dalam mengembangkan dirinya. Manusia yang sudah berpengalaman, seperti contoh orang tua, berperan membantu seorang anak manusia untuk terus mengembangkan dirinya tersebut. Hal ini didapatkan dari proses belajar yang dinamakan pendidikan ini. Tidak heran ditemukannya berbagai teknologi canggih di era sekarang merupakan efek dari pendidikan manusia itu. Pendidikan menjadi sebuah kebutuhan oleh manusia. Apalagi di era 2000-an ini perkembangan gadget dan teknologi semakin pesat. Namun, pendidikan yang salah dapat membuat seorang manusia akan menjadi out of context. Pendidikan yang salah di sini adalah pendidikan yang juga lahir akibat penafsiran dan intervensi dari gejala-gejala alam. Nah, lalu apa hubungannya dengan cerita legenda dengan pendidikan?

Pendidikan di Indonesia memang masih tertinggal dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Faktor multi etnis juga berperan dalam membentuk kebudayaan pendidikan di Indonesia. Masalah yang diangkat di sini adalah cerita dongeng atau legenda di Indonesia. Masih banyak cerita legenda Indonesia yang terbudayakan oleh kita. Cerita ini diturunkan secara turun temurun. Nah, hal inilah yang menyebabkan saya berpendapat mengapa dalam pendidikan itu ada intervensi dari alam. Kepercayaan manusia dalam hal-hal yang tabu seperti roh, pemujaan terhadap dewa, dan kepercayaan lain yang memang tidak rasional bagi kita. Di balik semua itu, cerita legenda masih terus dipertahankan sebagai alasan pewarisan budaya dari nenek moyang kita.
Cerita rakyat yang mau saya angkat di sini banyak. Salah satunya yaitu si Kancil. Apakah anda tahu si Kancil. Apabila dilakukan survei yang Apabila dilakukan survei yang mendalam maka kita akan mendapatkan sebagian besar rakyat Indonesia akan mengetahui cerita ini. Namun, saya tidak menekankan di ceritanya, inside dari cerita itu sendiri. Apakah cerita yang terus menerus dijadikan sebuah wacana sejak sekolah dasar sebagai sebuah cerita yang cerita itu sendiri. Apakah cerita yang terus menerus dijadikan sebuah wacana sejak sekolah dasar sebagai sebuah cerita yang digemari anak-anak tersebut bermanfaat dan mempunyai implikasi positif? Menurut saya tidak. Mdigemari anak-anak tersebut bermanfaat dan mempunyai implikasi positif? Menurut saya tidak. Mengapa saya bisa berkata demikian?

Dalam cerita si Kancil, sosok si Kancil diceritakan sebagai rusa yang berwatak licik dan diceritakan sebagai rusa yang berwatak licik dan senang mengelabuisenang mengelabui yang lain. yang lain. Apakah hal ini baik dalam pembentukkan makna dair cerita tersebut bagi anak-anak? Bukankah cerita ini malahan menjadi batu loncatan bagi seorang anak untuk berbuat licik pula. Memang, dilihat kenyataannya sekarang berpengaruh besar. Cerita legenda tersebut memiliki impilkasi yang negatif dalam pembentukkan watak umum bangsa Indonesia. Apabila dibedakan dengan ceita legenda orang Barat, mereka lebih bermoral dalam artian, dalam membuat sebuah dongeng. Sebagai contoh kisah si Oidipus sang Raja. Walaupun ia bernasib buruk, namun ia tetap melakukan kebaikan terhadap orang lain dan tetap sabar dengan kutukan yang menimpa dirinya. Nah, apabila dihubungkan secara filasafat imperialisme, mana yang lebih dulu imperial bangsa kita atau bangsa Barat. Pernyataan yang mengejutkan bahwa sebenarnya bangsa kita telah menganut dan menanmkan itu sejak lama dibanding orang Barat.

Ironis memang menurut pandangan saya ini. Sebab, pola pikir seorang anak itu akan lebih gampang dipengaruhi dan ditanamkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan sejak kecil. Apalagi dilakukan secara bersamaan dengan anak yang lain. Ini akan membuat proses itu semakin mengalami sebuah percepatan yang luar biasa. Nah, apabila penanaman melalui cerita dongeng yang secara langsung menanamkan moral negatif terhadap anak-anak akan membuat bangsa ini semakin terpuruk dalam urusan moral. “Bangsa yang maju”-red bukankah bangsa yang memiliki berbagai moral yang positif dalam membangun karakternya masing-masing?

Saya ambil contoh lagi, yaitu cerita si Kabayan. Dari pemaparan saya di atas, sebelum saya menjelaskan makna filosofis dari film ini apa, apakah anda bisa menebak apakah nilai-nilai yang ditanamkan di dalamnya? Mungkin yang berpikiran pragmatis bisa menjawab. Kabayaan adalah seorang Sunda yang diwatakkan sebagai seorang yang sangat hoki. Nah, saya tidak mengambil filosofis bahwa manusia itu akan selalu hoki dan akan mendapatkan sesuatu yang diinginkan seperti durian runtuh tetapi saya menekankan nilai negatif yang tersirat dalam cerita ini. Sang Kabayan memang diceritakan memang selalu hoki, namun di balik semua itu ia merupakan seorang yang sangat pemalas. Dalam cerita ini, walaupun si Kabayan malas-malasan ia tetap mendapatkan hal yang diinginkan. Apakah implikasi dan adakah yang teori yang mendukung hal di atas? Tuhan saja tidak mau mengubah nasib suatu kaum kalau tidak ia sendiri yang berusaha menggapai apa yang diinginkannya. Cerita si Kabayan ini yang sarat makna negatif ini, dapat membentuk pola pikir anak-anak menjadi seorang yang pemalas dan tidak mau berusaha. Seperti kebanyakan orang Sunda di pedalaman, mereka lebih sering tidak bekerja dan menunggu sesuatu yang diinginkan datang tiba-tiba dan membuat mereka sejahtera. Namun, hal itu tidak terjadi dan membuat pola pikir mereka menjadi seorang yang pemalas. Apalagi hal ini dilakukan pada anak-anak. Mereka akan cenderung menerimanya sebagai informasi yang benar karena pola pikir mereka membuat itu seakan-akan terjadi.

Nilai negatif yang tertanam di cerita rakyat sangat berdampak besar terhadap kemajuan bangsa. Sebagai contoh bangsa Jepang. Bagi mereka tiada hari tanpa bekerja dan mobilisasi. Mereka beranggapan kalau tidak bekerja dan berpendidikan tentunya mereka tidak akan bisa hidup. Hal ini lah yang memicyu kemajuan bangsa mereka dari dahulu. Sebab, sudah ada penanaman nilai-nilai yang baik dalam penceritaan turun temurun cerita rakyat mereka tentang kepahlawanan. Cerita rakyat mereka juga banyak yang bertema harga diri yang menstimulasi rakyatnya untuk bekerja keras dalam mencapai hal yang diinginkan. Berbanding terbalik dengan yang terjadi dengan pencitraan pada cerita rakyat kita. Menurut saya cerita rayat kita lebih banyak mengandung nilai-nilai yang nefatif dibanding positifnya. Cerita rakyat tersebut sedikit banyak dapat mempengaruhi pola pikir bangsa ini.

Faktor media mendapat sorotan sangat tajam di sini. Pendidikan disalurkan lewat berbagai media. Media cetak, media elektronik.
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Follow by Email