Senin, 07 Maret 2011

Katarsis

Katarsis


Kenapa katarsis itu tak juga muncul antara diri saya dengan fakultas ini? Apa yang ada dipikiran saya atas konsekuensi dengan melakukan sebuah pernyataan yang memag datang dari sanubari ini? Entah, ironis, dan sangat dilematis. Di saat semua orang menikmati kecintaannya dengan di P ini. Saya belum bisa meluapkan dengan katarsis tersebut dengan si P ini? Saya tak tahu pergolakan batin apa yang sedang saya rasakan sampai saat ini( 24 Februari 2011). Saya sukar bercinta dengan fakultas P ini. Mencoba untuk menemukan insight yang rasional dan tidak terpengaruh akan otoritas, saya tetap saja masih mencari jati siri dan cara adaptasi apa yang cocok seandainya terjadi kemungkinan terburuk yaitu menjadi bagian dari survival person without deep insight and heart.


Berulang kali saya bertanya kepad sisi lain dari diri saya yang bernanung keeogisan di dalamnya. Apakah saya terlalu eogis untuk sebuah pilihan yang memang harus diambil atau mengorbankan kepentingan orang lain di saat bersamaan. Identitas yang saya dapatkan belum membuat saya lebih universal dan memiliki kefleksibilitas-an dalam proses menelaah pencarian esensi yang sangat bermakna di fakultas P ini. Begitu banyak sisi lain dari manusia yang tidak saya ketahui dan entah sampai kapan saya akan mengetahuinya. Ketidaktertarikan itu sudah muncul namun karena ada dorongan dari pihak ketiga membuat saya memilih pilihan yang menurut saya salah. Penyesalan sudah agak timbul dengan semua hasil yang telah diraih. Manusia akan survive bila ia memang menggemari bidang yang ia gemari dan pada akhirnya ia mempunyai ekspertasi.

Menilik perkembangan yang dirasakan teman sejawat di fakultas yang saya dambakan sebenarnya yaitu fakultas E, saya memang merasa agak miris sekaligus pesimistis. Pesismistis walaupun sedikit tetap memberikan pengaruh terhadap pemilihan rencana dan interpretasi akan masa yang akan datang. Sekarang saya menjadi lebih pragmatis, yang sering bertanya apakah esensi di balik semua ini? Apakah pilihan yang diberikan Allah memang sudah yang terbaik dan tidak merusak kepentingan prospek orang lain? Selau pragmatis, sampai saya belum menemukan formula yang tepat dalam menjawab semua pertanyaan dari diri saya sendiri yang begitu ambigu dan tidak mempunyai relevansi dengan fakultas P ini.

Saya sudah seirng berkaca dan menatap diri saya yang terlalu angkuh ini untuk menjawab pertanyaan yang saya ajukan terhadap diri sendiri. Memang benar terkadang firasat bisa salah, namun kembali lagi terhadap ketidakkonsistenan seorang saya ini. Hal ini mungkin berlatar belakang dari sifat saya yang memang agak konvensional seperti tetua-tetua di zaman sebelumnya. Konsisten memang sangat direlevansikan dengan tujuan pemilihan sebuah variabel. Manusia yang selalu hidup dengan 2 variabel pilihan seolah bertanya dan bertanya lagi dengan pilihan menurut mereka kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan secara pribadi oleh per masing-masing individu di muka bumi termasuk saya. Konsisten yang seakan sulit untuk menggapainya demi kelancaran pemilihan variabel-variabel yang nanti mungkin akan sangat menentukan jalan hidup ini. Jalan yang dipilih sesuai dengan peminatan atau hanya sebatas identitas yang dibaliknya tidak ada suatu rasa menikmati dari seorang individu.

Apakah kerasionalan yang dimiliki tiap manusia yang punya tingkat normalitas rata-rata memang perlu dilandasi dan dibarengi dengan suara-suara hati yang mungkin bertentangan dengan kerasionalitasan kita? Sesuatu yang sejatinya tidak cocok bagi kita pada akhirnya bisa menjadi sebuah pilihan yang memang harus diterima. Apakah manusia harus dengan sebegitu gampangnya menyerahkan ketakdiran itu semata-matanya hanya tahu itu takdir dan tak bisa di change menjadi sesuatu yang lebih komprehensif dan inovatif serta aplikatif bagi diri seorang manusia?

Lagi-lagi pagmatis. Pola pikir yang memang sebenarnya lebih dibutuhkan di bidang eksakta untuk pengamalan serta perujukan yang aplikatif untuk sebuah teori. Namun, bagaimana dengan penerapannya di bidang manusia? Apa ada pengaruhnya dengan tingkat intensitas kesolidan dan ketidak ragu-raguan dalam memilih sebuah pilihan sepeti kasus saya di atas?

Catatan Malam Hari si A pukul 23.15, 24 Februari 2011
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Follow by Email