Rabu, 13 April 2011

Aplikasi Learning dalam Kehidupan Sehari-hari Manusia

Learning


Manusia dan hewan yang dilahirkan ke dunia secara langsung dengan tahap biologis, menjadikan learning menjadi proses awal seorang individu dalam mengembangkan kemampuannya. Apakah makna dari istilah learning ini dalam kehidupan manusia sendiri? Learning bisa diartikan proses pembelajaran oleh manusia dan hewan(tertentu). Learning merupakan suatu proses sistematis yang terjadi berdasarkan pengalaman sehingga dampak dari proses belajar tersebut adalah perubahan perilaku yang relative menetap pada khasanah perilaku individu tersebut (King, 2011). Pengertian serupa diungkapkan oleh Crowder (1976) bahwa learning adalah sebuah perubahan pada diri organisme yang terjadi pada suatu waktu yang merupakan hasil dari pengalaman yang terjadi padanya. Dengan kata lain, learning adalah suatu proses yang berhubungan erat dengan perubahan tingkah laku kita yang merupakan hasil belajar kita dari pengalaman yang pernah terjadi pada diri kita. Tidak akan disebut learning apabila hal atau pengalaman yang mendasari perubahan kita merupakan suatu yang berjalan alami. Hal-hal karena proses kedewasaan dan kematangan (maturasi) bukanlah merupakan learning karena tanpa pengalaman pun kita akan dapat mengubah tingkah laku kita, sementara learning sangat menekankan hubungannya pada pengalaman dan perubahan tingkah laku.


Dalam menjalankan kegiatan sehari-hari manusia dahulunya menurut konsep genetika yang dicetuskan oleh Charles Darwin dengan karya terkenalnya “Teori tentang Evolusi Manusia.” Ia membenarkan bahwa manusia dulunya melakukan proses pertahanan dirinya terhadap berbagai kondisi alam. Manusia awal yang diklasifikasikannya yaitu manusia adalah makhluk sebangsa kera yang melakukan proses berburu dan mencari makanan untuk melakukan proses survival of the fittest. Makhluk hidup yang bisa bertahan dan yang terfitlah yang akan bertahan dan terus melanjutkan kehidupannya. Ini juga didukung dengan paham trial and error, insight learning dan proses evolusi (Campbel, 1960; Pringle, 1951; Russell, 1962; Skinner, 1969; Staddon & Simmelhag, 1971). Tahap ini berlangsung puluhan ribu tahun lamanya dan manusia menurut beberapa teori pendukung konsepsi Darwin ini berpendapat bahwa setelah masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia beralih kepada strategi bercocok tanam. Beberapa sejarahwan yang menemukan tulang belulang manusia dari zaman ke zaman, berpendapat bahwa memang terjadi penyusutan otak manusia dalam proses mengembangkan dirinya tersebut. Lalu apa hubungannya dengan learning? Manusia dalam mengembangkan dirinya yang juga terkait proses evolusi telah melakukan pembelajaran sejak zaman dahulu. Learning merupakan fitrah manusia sebagai makhluk yang memiliki akal dan pikiran. Perbedaan inilah yang membuat manusia berbeda ddengan binatang namun binatang dapat juga diberi pembelajaran dalam proses perubahan tingkah laku walaupun tidak sesignifikan yang dilakukan oleh manusia.

Di dalam buku Teori-Teori dan Sifat Behavioristik disebutkan bahwa dalam system Hullian yang digunakan oleh Dollard dan Miller, belajar digambarkan sebagai hubungan asosiatif antara stimulus terkondisi(seperti bunyi bel sebagai contoh) dan respon yang dihasilkan oleh seorang individu. Hal inilah nantinya yang kita kenal sebagai sebuah habit (kebiasaan). Dari teori ini dapat disimpulkan juga bahwa makhluk hidup menyimpan informasi dari pengalaman yang ia dapatkan dari proses belajar tadi dan dijadikan kebiasaan. Hal inilah yang disebut sebagai perilaku yang menetap dari proses belajar. Pengulangan dan pengasosiaan berulang kali (contiguity) stimulus dan respon yang dipelajari tersebut akan membentuk suatu kebiasaan tadi.

Perbedaan antara kedua ini yaitu tipe R, kekuatan dari pengkondisiannya ditunjukkan dengan respons rate sedangkan tipe S biasanya ditentukan oleh magnitude dari respon yang dikondisikan sebelumnya.

Learning seperti kita ketahui sangat beragam dalam pengaplikasiannya dalam kehidupan. Adapun cara-cara learning beragam macamnya yang dilakukan oleh manusia. Manusia perlu belajar untuk mengembangkan dirinya, lingkungan, dan kebudayaannya. Manusia diberi akal dan pikiran dalam psikologis berarti manusia bisa membedakan antara mana yang merupakan proses belajar ataupun proses belajar yang sesaat(tidak mengandung makna belajar yang terlalu dalam). Manusia perlu melakukan semua ini sebagai bentuk dari pengalaman yang dilakukan oleh manusia lain di masa lalu yang membuat learning itu sendiri diturunkan secara turun temurun. Ada juga yang berpenapat bahwa learning ini merupakan suatu yang konstan yang terjadi pada setiap manusia karena setiap manusia akan tumbuh menjadi dewasa. Sebagai contoh proses berjalan, hal ini dianggap sebagai sebuah konstanitas atau memang terberi dalam diri setiap manusia. Setiap manusia akan belajar berjalan karena hal tersebut memang yang dilakukan setiap manusia dalam tahapan hidupnya. Tahapan hidup di sini adalah interval dalam kehidupan manusia yang dinyatakan atau dibedakan dalam rentang umur yang dapat dikelompokkan. Mulai dari bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia.

Lalu bagaimana kita men-distinguish bahwa manusia sudah bisa dikatakan belajar? Belajar merupakan salah satu subdivisi dari learning yang mempunyai cakupan yang luas. Subyeknya umumnya adalah manusia karena manusia adalah makhluk yang dinamis yang mampu mengembangkan dirinya melalui proses pembelajaran yang ia lakukan dengan cara dan tahapan tertentu. Kita baru dapat mengatakan seorang manusia sudah belajar seperti pemaparan saya di atas, ketika individu lain(manusia) menilainya sebagai tindakan yang telah menetap dalam diri seorang individu dan disertai dengan perubahan performanc. Bisa dicontohkan dengan perbuatan yang baik menjadi buruk ataupun sebaliknya dan diobservasi dan diakui memang terjadi perubahan terhadap tingkah lakunya secara menetap.

Menurut King (2011) learning di klasifikasikan menjadi dua jenis yaitu: associative learning dan observational learning. Pengklasifikasian ini didasarkan pada perbedaan keduanya dilihat dari hubungan dengan ada tidaknya proses mental. Dalam associative learning, terjadi dua pengalaman yang terkoneksi dalam diri kita dan pengalaman tersebut benar-benar nyata terjadi pada diri kita. Hal ini sedikit berbeda dengan observational learning dimana kita bertindak sebagai subjek pengamat yang mengamati, mengingat, dan melakukan perubahan tingkah laku tersebut. Dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam associative learning, kita sebagai orang yang melakukan pengalaman atau tindakan nyata pada khasanah perilaku kita sedangkan pada observational learning kita akan melakukan perubahan perilaku berdasar modelling dari contoh yang diberikan. Perubahan tingkah laku kita dalam observational learning akan tergantung dari seberapa kuat memory kita merekam dan memanggil ingatan akan proses modelling tersebut sehingga kita bias merubah tingkah laku kita sesuai dengan objek yang kita amati.

A. Resolusi Tahun 2011(Operant Conditioning)


Punisher: Tingkah laku malas untuk bersih-bersih kamar kos.
Operant: Tingkah laku tidak malas untuk bersih-bersih kamar kos.
Kami memilih tingkah laku tersebut untuk kami jadikan resolusi di tahun 2011 karena kami ingin menurunkan frekuensi malas yang sering kami lakukan pada tahun 2010.

Menurut kelompok kami sendiri, sesuatu yang baru tersebut adalah perubahan yang benar-benar memiliki kontinuitas dan menetap sebagai suatu tingkah laku dalam diri kami. Hal ini sejalan dengan pengertian learning yang dikemukakan oleh Kimble, 1961 (dalam Hergenhann dan Olson (1993) yang mengemukakan bahwa proses belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap.

Sebagai anak kos yang baru beradaptasi dengan lingkungan baru, terkadang permasalahan untuk pengaturan waktu menjadi kendala dalam membersihkan kamar kos. Mayoritas dari kami jarang untuk membersihkan kamar kos sehingga suasana dalam kamar terkadang dirasa kurang kondusif untuk belajar. Dari latar belakang masalah tersebut, kami mentargetkan untuk memunculkan tingkah laku baru yaitu membersihkan kamar setiap satu minggu sekali, yaitu pada hari sabtu. Apabila kami tidak melakukan perilaku tersebut, kami akan memberikan punishment negatif berupa penghilangan hal yang menyenangkan bagi kami, yaitu jalan-jalan pada akhir pekan. Hal ini didukung oleh teori Law of Effect-nya Thorndike tentang punishment dan reinforcement. Kami di sini mengklasifikasikannya sesuai teori ini sebagai negative punishment respons yang mengarah pada positive outcomes (satisfier) yang cenderung diulang kembali.

Kedua, negative punishment penurunan frekuensi tingkah laku karena dihilangkannya stimulus yang menyenangkan. Ini ditunjukkan ketika kami malas bekerja, agar menjadi tidak malas, ditariklah stimulus yang kami anggap menyenangkan yaitu pergi ke kampus.

Dalam prinsip learning juga bisa dipakai aversive conditioning. Hal ini dilakukan dengan memasangkan aversive stimulus dengan tingkah laku yang tidak disukai. Hal ini ditunjukkan melalui ketika kami tidak melakukan pekerjaan bersih-bersih tadi kami kami tidak mendapatkan hal yang kami sukai tadi(pergi ke kampus). Aversive stimulus di sini berfungsi sebagai reward agar kita terstimulasi menjadi rajin karena ada hal yang kita inginkan sebagai imbalan atas yang kita kerjakan.

Punishment saat kita males bersih-bersih adalah tidak boleh pergi keluar untuk jalan-jalan

B. Pengenalan Diri
Sebagaimana paham behavioris yang dikemukan oleh Ivan Pavlov yang melakukan penelitian dengan anjingnya Dimitri, yang pada awal mulanya ingin meneliti sistem pencernaan Dimitri.
Ada dua macam conditioning menurut B. F. Skinner yaitu tipe S conditioning yang dikenal juga dengan istilah respondent conditioning yang sangat identik dengan classical conditioning. Kedua, tipe R conditioning yang dikenal juga dengan operant conditioning. Pada pengkondisian ini, lebih ditekankan kepada pentingnya sebuah stimulus dalam memunculkan sebuah respon.
Skema Classical Conditioning

UCSUCR
NS  tidak UCR
NS + UCS  CR
CS  CR

Keterangan:
UCS = Sorakan dari orang-orang di sekitar individu
UCR= Takut
NS= Bicara di depan umum

Berdasarkan teori Classical Conditioning yang digagasi oleh Pavlov dan John B. Watson pada kasus ini, sampel yang pada awalnya tidak takut apabila tampil di depan umum terkondisikan menjadi takut setelah adanya asosiasi antara UCS yang berupa sorakan dari penonton dan berbicara di depan umum. UCS dan NS dipairing secara bersamaan dan mengikuti prinsip contiguity menyebabkan sampel menjadi terkondisikan menjadi takut.


C. Mengamati Situasi Sehari-hari
Tanpa kita sadari, tingkah laku kita dipengaruhi dari hasil observasi yang sering kita lakukan terhadap orang lain. Dalam learning itu sendiri dikenal teori Observational learning yang dicetuskan oleh Albert Bandura. King (2011) menyebutkan bahwa observational learning terbagi menjadi 4 tahapan yaitu: attention, retention, motor reproduction, dan reinforcement.

Contoh dari perilaku yang dapat diamati berdasarkan observational learning adalah perilaku berupa cara berbicara dan penampilan dari salah seorang teman kami, mahasiwa Fakultas Psikologi UI bernama Iqbal. Modeling yang ia amati adalah Dosen F.Psikologi UI bernama Ivan Sujana.

Dari segi penampilan, cara berpakaian Iqbal yang selalu memakai stelan kemeja, celana yang bagian bawahnya dilipat, dan sepatu sport mirip dengan penampilan mas Ivan sendiri. Saat mas Ivan berbicara dan memberikan materi di dalam kelas, Iqbal memperhatikan mas Ivan dengan seksama dan secara tidak sadar cara berbicara Iqbal mirip dengan mas Ivan yang banyak memperkuat argument terhadap orang lain dengan teori-teori yang berhubungan dengan hal yang dibicarakan. Dalam hal ini menurut teori Bandura, Iqbal melakukan proses attention dan retention karena setelah mengamati cara berpenampilan dan cara berpakaian yang mungkin sama dengan selera Iqbal, ia melakukan proses retention.

Dari hal-hal yang berhasil kami amati, kami memperoleh gambaran bahwa cara berbicara dan berpenampilan dia memang mirip dengan Mas Ivan.


Daftar Pustaka
Bellack,A. S., Hersen, M. (1977). Behavior Modification. Baltimore: The Williams & Wilkins Company.
Crowder, R. G. (1976). Principles of Learning and Memory. Hillsdale: Lawrence Erlbaum Associates.
Estes, W. K. (ed). Handbook of Learning and Cognitive Process: Vol. 2 Conditioning and Behavior Theory. Hillsdale: Lawrence Erlbaum Associates.
Hall, C. S., Lindzey, G. (1978). Theories of personality. In A. Supratiknya(Ed). Teori-teori Sifat dan Behavioristik, 1993, Yogyakarta: Kanisius.
Hergenhann, B. R., Olson, M. H. (1993). An Introduction to Theorities of Learning. Englewood Cliffs: Prentice-Hall International.
King, L. A. (2011). The Science of Psychology: An Appreciative View(2nd ed). New York: McGraw-Hill International Edition.
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Follow by Email