Kamis, 12 April 2012



ESAI ARGUMENTATIF
PSIKOLOGI SOSIAL




HUBUNGAN ANTARA KONFLIK INTERNAL KELUARGA(KELUARGA DENGAN PENGHASILAN RENDAH) DENGAN MINIMNYA TINGKAH LAKU PROSOCIAL YANG MUNCUL OLEH SEORANG INDIVIDU

M. FAJRI
1006689076

Definisi dari keluarga berpenghasilan rendah didapat dari tingkat pendidikan yang diraih oleh seorang individu (Ensminger & Fothergill, 2003 dalam McGrath; Brown, 2009) dan tempat tinggal seorang individu atau tempat ia menetap adalah pendefinsian dari keluarga berpenghasilan rendah secara ekologis (Leventhal & Brooks-Gunn, 2000 dalam McGrath; Brown, 2009). Dapat diartikan bahwa individu yang mempunyai tingkat pendidikan rendah dan tempat menetap yang kurang memenuhi standar merupakan indikator penting seorang individu dikatakan sebagai seorang yang berasal dari keluarga yang berpenghasilan rendah.
Keluarga berpenghasilan rendah rentan akan terjadinya konflik internal. Hal ini sangat berpengaruh pada aspek psikologis anggota keluarga di dalamnya, baik aspek emosi, stres, dan frustasi. Kecendrungan untuk stres dan frustasi terbilang tinggi karena kurang adanya rasa aman akan kebutuhan primer seperti makanan, tempat tinggal yang layak, dan rasa kedekatan antar anggota keluarga (Maslow, 1980 dalam Martin, 2011). Hal inilah yang memicu stres atau frustasi. Stres tersebut menghasilkan konflik karena keinginan dan kenyataan yang tidak sesuai dengan ekspektasi individu tersebut. Kemudian, hal ini menghasilkan tekanan psikologis yang mempengaruhi bagaimana individu bertindak. Apabila tidak sesuai dengan harapan maka akan timbul ketidaksenangan dan ketidakpuasan akan hasil dan kondisi yang ada. Hal inilah yang memicu sebuah konflik.
Perilaku prososial didefinisikan sebagai sebuah perbuatan secara sadar yang bertujuan membantu dan memberi manfaat kepada orang lain (Eisenberg et al., 1999; Findlay, Girardi, & Coplan, 2006; Hay, 1994; Kidron & Fleischman, 2006 dalam Martin 2011). Perilaku ini juga termasuk dalam hal respon terhadap tanda akan bahaya, kebutuhan yang dialami oleh orang lain. Dalam hal ini seseorang dengan perilaku ini akan tergerak untuk memberikan respon dengan cepat. Tingkah laku ini termasuk memberi bantuan, berbagi, menjadi orang yang baik dan penuh pertimbangan, bisa membuat orang lain nyaman, kooperatif, melindungi orang lain dari adanya bahaya yang datang, menyelamatkan seseorang dari bahaya, dan perasaan empati dan simpati (Radke-Yarrow & Zahn-Waxler, 1986 dalam Martin, 2011). Prososial dapat terjadi apabila orang tersebut memliki trait kepribadian yang stabil dan melekat dalam diri individu seperti empati, simpati, pengambilan cara pandang terhadap sesuatu (Eisenberg et al., 2002 dalam Martin, 2011).

Dalam hal ini saya ingin melihat apakah ada hubungan antara konflik internal pada keluarga dengan penghasilan rendah dengan tingkat perilaku prososial yang muncul pada individu menurut karakterisitik saya tersebut. Menurut saya, terdapat hubungan antara kedua variabel yaitu konflik internal keluarga dengan prososial pada subjek tersebut. Adapun hubungan keduanya merupakan hubungan yang bersifat korelasi negatif karena dengan adanya konflik internal dalam keluarga berpenghasilan rendah maka akan membuat tingkah laku prososial yang muncul pada  individu yang ada dalam keluarga tersebut rendah.
Kematangan secara biologis(dari segi perkembangan fisik) dan tekanan sosial menentukan perubahan dalam perilaku prososial melalui perkembangan. Karakteristik individu diasosiasikan dengan agresi fisik dan periode perilaku prososial dari umur dan jenis kelamin terhadap fisik, emosi, pola pikir (kognisi), dan dimensi sosial seorang individu (Tremblay & LeMarquand, 2001 dalam Martin 2011). Hal ini berhubungan dengan tingkah laku prososial yang muncul karena keluarga ini memiliki masalah dalam hal hubungan emosi dan sosial kepada orang lain.
Individu yang mendapatkan kenyamanan dan kasih sayang yang tinggi dalam pengetahuan melakukan banyak aktivitas yang bersifat aktual dan berhubungan dengan orang lain dan lebih cenderung diterima oleh orang lain (Banyard, 2008; Barr & Higgins-D’Alessandro, 2007 dalam Martin 2011). Hal ini memicu mereka untuk melakukan perilaku prososial karena daya dukung lingkungan yang sesuai dengan iklim sosial yang diinginkan individu. Ekspektasi individu terhadap lingkungan sosialnya juga memicu ia melakukan perilaku prososial. Hal ini mendukung bahwa keluarga yang rentan konflik mempunyai kedekatan dan kenyamanan yang rendah di antara anggota keluarga. Hal ini membuat individu yang ada dalam keluarga tersebut kurang melakukan kontak sosial dan cenderung pasif karena hal tersebut. Kurangnya kontak sosial akhirnya mempengaruhi bagaimana individu berperilaku kepada orang lain. Minimnya kontak mengakibatkan individu memunculkan perilaku prososial yang rendah.
Perilaku prososial dapat bersumber dari laporan dan pemaparan orang tua individu  mengenai pertolongan, keinginan untuk berbagi, dan kebaikan yang dilakukan individu.(Knafo & Plomin, 2006 dalam McGrath; Brown, 2009). Keluarga berfungsi sebagai acuan orang lain untuk menilai seorang individu apakah dia dapat digolongkan prososial atau tidak. Keluarga dengan tingkat ekonomi yang rendah dan rentan terkena konflik diasosiasikan dengan minimnya social emotional outcomes (Leventhal & Brooks-Gunn, 2000 dalam McGrath; Brown, 2009). Padahal social emotional outcomes ini merupakan pemicu munculnya tingkah laku sosial. Konflik yang sering terjadi membuat kenyamanan individu yang berasal dari keluarga ini rendah dan cenderung membuat individu itu menjadi stres dan frustasi. Hal ini berdampak pada aspek emosi dan sosialnya. Ketika ia menjalin hubungan dengan orang lain, ia akan terlihat lebih menarik diri dan perilaku prososialnya juga rendah karena akibat konflik yang terjadi di internal keluarga.
Orang tua yang datang dari keluarga menengah ke atas lebih sering berbicara dan melakukan kontak dengan anaknya dibanding orang tua yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah (Hoff, 2003 dalam McGrath; Brown, 2009), dan ketika anak tersebut berkembang atau mengalami maturasi orang tua yang berasal dari keluarga berpenghasilan menengah ke atas lebih sering menggunakan cara pengasuhan yang lebih baik (pengasuhan induktif) dibanding keluarga berpenghasilan rendah(L. Hoffman, 2003 dalam McGrath; Brown, 2009). Minimnya konflik yang terjadi di keluarga berpenghasilan menengah ke atas membuat mereka dapat fokus mengurus anaknya yang berdampak pada sisi psikologis dan emosi. Mereka lebih mendapatkan kasih sayang dan perhatian dibandingkan keluarga berpenghasilan rendah. Keluarga berpenghasilan rendah lebih minim melakukan kontak dengan anaknya karena faktor ekonomi tersebut. Beberapa dari mereka lebih menghabiskan waktu mencari penghasilan lain karena kemungkinan kurangnya penghasilan pokok membuat mereka kekurangan dalam hal keuangan. Keuangan juga menentukan faktor kesejahteraan, kesehatan, dan lain lain. Hal ini menyebabkan individu yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah kurangnya rasa aman dan kasih sayang yang mempengaruhi aspek emosi dan afeksi terhadap orang lain.
  
KesimpulanKeluarga berpenghasilan rendah yang rentan akan terjadinya konflik berdampak pada aspek psikologis, emosi individu dalam keluarga tersebut. Berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya konflik dalam keluarga, kurangnya rasa aman, rasa kasih sayang atau afeksi, rasa kedekatan antar anggota keluarga. Kemudian, emosi mempengaruhi bagaimana ia bertingkah laku terhadap orang lain. Emosi juga mempegaruhi bagaimana ia berempati kepada orang lain. Empati merupakan salah satu trait prososial. Jadi, individu dari keluarga berpenghasilan rendah akan memunculkan tingkah laku prososial yang rendah karena minimnya kontak sosial sebagai hasil dari konflik yang berimbas pada aspek emosi.

Daftar Pustaka

Martin, E. L. 2011. Measuring Prosocial Behavior Through the Implementation of  a Violence Prevention Intervention. UMI Dissertasion Publishing : United States. Diakses melalui proquest.com pada tanggal 1 Desember 2011, pukul 10.53 WIB.
McGrath, M. P., Brown B. C. 2008. Developmental Differences in Prosocial Motives and Behavior in Children From Low-Socioeconomic Status Families. The Journal of Genetic Psychology, 169(1), 5–20. 2008 . Heldref Publications : United States. Diakes melalui proquest.com pada tanggal 2 Desember 2011 pukul 16.03 WIB.
Knoester, C., Haynie, D. L., Stepehens C. M. 2006. Parenting Practices and Adolescent’s Friendship Network. Journal of Marriage and Family, 68(5), Proquest Psychology Journals hal. 1247. Diakses melalui proquest.com pada tanggal 2 Desember 2011 pukul 16.20




Ada kesalahan di dalam gadget ini

Follow by Email