Kamis, 12 April 2012

PSIKOLOGI KOGNITIF
DISUSUN OLEH

AHMAD NURIZKI RIFAIE/1006663783
ANDREAS ABEDNEGO/1006770204
DENNY ADRE/1006688741
MOCH IKHSAN ARIDANI/1006689183
M.FAJRI/1006689076

I. Dasar-Dasar Eksperimen
Kami melakukan penelitian ulang tentang phonological loop. Salah satu bentuk ekperimen phonological loop di sini adalah articulatory suppression task. Dalam eksperimen ini, membuktikan bagaimana batasan kapasitas working memory yang dimiliki manusia dan mengukur kemampuan manusia dalam melakukan lebih dari satu hal dalam suatu waktu ketika manusia menggunakan working memory yang dimiliki dalam mengerjakan lebih dari satu hal. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kapasitas working memory manusia. Manusia membutuhkan kemampuan lebih untuk melakukan lebih dari satu hal dalam satu waktu.
Dalam penelitian ini kami diminta untuk membuktikan apakah performa partisipan lebih buruk ketika dihadapkan articulatory supression dibanding ketika mereka hanya membaca dalam keadaan tenang.
Phonological loop adalah komponen yang berkaitan dengan ucapan dan pendengaran yang berperan penting terhadap pengolahan (rehearsal) informasi verbal dan proses yang bersifat phonological (Aschcraft & Radvansky, 2010). Terdapat dua sub-komponen pada phonological loop, yaitu phonological store dan articulatory loop. Untuk mempermudah memahami kedua sub-komponen tersebut, Ashcraft & Radvansky menggunakan istilah inner ear untuk menggambarkan phonological store dan istilah inner voice untuk menggambarkan articulatory loop (Ashcraft & Radvansky, 2010).
Dari tiga efek mengenai bagaimana phonological loop itu sendiri bekerja, yaitu word length effect, articulatory suppression effect dan phonological similarity effect dalam Ashcraft & Radvansky (2010), penelitian ini berfokus pada pembuktian dari efek articulatory suppression. Articulatory suppression sendiri menurut Murray dalam Ashcraft & Radvansky (2010) merupakan penemuan bahwa individu memiliki memori yang lebih lemah ketika mereka diminta untuk mengatakan suatu hal ketika mereka mencoba untuk mengingat hal lain yang berbeda.
Salamé and Baddeley dalam Hanley & Bakopoulou (2003),  berpendapat bahwa ucapan kata yang tidak relevan dapat mengganggu penyimpanan memori verbal yang bersifat sementara yang ada dalam phonological input. Materi yang diucapkan memiliki akses ke phonological store, sedangkan materi yang dilihat secara visual akan masuk ke dalam phonological store jika diucapkan (atriculated) (Hanley & Bakopoulou, 2003). Sejalan dengan prosedur atriculatory suppression secara teoritis, penelitian Hanley dan Bakopoulou (2003) menunjukkan adanya efek yang signifikan dari irrelevant speech terhadap informasi yang disampaikan secara auditori. Hal itu disebabkan oleh informasi yang disampaikan secara auditori memasuki sub-komponen phonological store secara otomatis dan informasi-informasi inilah yang akan terganggu oleh adanya irrelevant speech.
Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Padilla, Bajo & Macizo (2005), yang prosedur penelitiannya kurang lebih sama dengan penelitian dalam laporan ini, secara garis besar ditemukan bahwa ada pengaruh dari efek articulatory suppression. Penelitian tersebut menggunakan variabel lain yang tidak ada dalam penelitian dalam laporan ini.

II. Prosedur Penelitian     
Partisipan penelitian berjumlah 5 orang. Masing-masing mereka diuji satu persatu. Kemudian masing-masing partisipan penelitian diberikan articulatory suppression task. Untuk menguji adanya efek articulatory suppression tersebut, penelitian ini menggunakan model absent-present manipulasi terhadap partisipan. Task ini terbagi dalam dua fase. Fase pertama masing-masing peserta dihadapkan atau diperlihatkan 10 kata yang berbeda dan diperlihatkan secara bergantian. Peneliti menentukan kata apa yang akan diberikan kepada partisipan penelitian. Masing-masing kata dihadapkan kepada partisipan dengan durasi kurang lebih 1 detik. Setelah 10 kata ditampilkan, partisipan diminta untuk mengingat kembali 10 kata tersebut dan menuliskan kembali pada secarik kertas 10 kata yang dapat dia ingat. Partisipan dibebaskan menuliskan kata walau tanpa berurutan. Kemudian, peneliti mencatat jumlah kata yang ditulis secara tepat.
Fase kedua, peneliti menambahkan suatu kondisi (manipulasi). Pada kondisi ini, partisipan diminta menyebutkan kata “THE” secara terus menerus atau kontinu. Kemudian secara bersamaan sembari menyebutkan kata tersebut, partisipan diperlihatkan 10 kata yang telah dipersiapkan oleh peneliti. 10 kata ini semuanya berbeda dengan pada fase pertama tadi. Kemudian, setelah kata ke-10 selesai, partisipan kembali diminta menuliskan kata-kata yang diperlihatkan oleh peneliti. Peneliti selanjutnya, menghitung jumlah kata yang dijawab secara tepat oleh partisipan. Di akhir dari setiap fase, akan muncul layar yang menginstruksikan partisipan untuk menulis kembali kata-kata yang sudah ditampilkan selama kurang lebih 3 menit.
Daftar 10 kata pada fase pertama antara lain adalah: between, apple, comment, father, story, polite, from, enough, search dan future, sedangkan daftar 10 kata pada fase kedua antara lain: figure, action, mother, became, making, really, either, office, common dan moment. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan media tablet sebagai media untuk menampilkan 20 kata dan tidak menggunakan kartu seperti yang digunakan pada penelitian yang direplikasi. 10 kata untuk dibaca dalamkeadaan diam dibuat sendiri oleh peneliti sedangkan 10 kata lain untuk dibaca dalam keadaan articulatory suppression diambil dari daftar yang ada dalam buku Ashcraft & Radvansky (2010) halaman 168.

III. Penemuan Eksperimen (pada buku Ashcraft)
Ada 10 kata yang tersedia pada suatu cacatan atau kartu. Lalu partisipan dibuat untuk membaca kata-kata tersebut secara berurutan dengan jeda waktu 1 detik setiap katanya sebelum pindah ke kata selanjutnya. Ketika kata terakhir telah selesai ditunjukkan dan dibaca, partisipan diharuskan untuk menuliskan sebanyak mungkin kata yang dapat diingat. Pada percobaan pertama, partisipan hanya membaca kata-kata yang disediakan dengan tenang. Lalu untuk percobaan articulatory suppression, partisipan  dibuat untuk mengatakan kata “the” secara berulang kali sambil membaca kata-kata yang diujikan. Ketika membaca kata-kata yang tersedia, partisipan diwajibkan untuk mengucapkan “the” hingga daftar kata telah habis atau selesai. Hal yang dapat ditemukan adalah performa partisipan lebih buruk pada articulatory suppression dibandingkan dengan partisipan yang hanya membaca dengan tenang atau diam.
Hasilnya, dengan berbicara saat periode retensi, kapasitas dari articulatory loop akan tergunakan sehingga kata-kata dalam phonological store tidak dapat di-refresh dan kemudian hilang (Ashcraft & Radvansky, 2010). Proses berbicara saat menghafalkan suatu hal tersebut dapat dikategorikan ke dalam irrelevant speech yang menurut Ashcraft & Radvansky (2010) sangat menyusahkan seseorang untuk menyimpan informasi baru ketika irrelevant speech berada di sekitar individu tersebut. Irrelevant speech tersebut mengganggu komponen phonological loop, menghabiskan kapasitas dan mengakibatkan seseorang untuk melupakan informasi verbal (Ashcraft & Radvansky, 2010).

IV. Hasil Penelitian

IV.1 Data Penelitian:
Partisipan 1
Membaca dengan tenang
Between - Father - Comment - Apple - Story - Search - Future - From (8 words
recalled)

Membaca dengan articulatory suppression
Action - Mother - Become - Either - Office - Common (6 words recalled)

Partisipan 2
Membaca dengan tenang
Between - Apple - Comment - Future - Father (5 words recalled)

Membaca dengan articulatory suppression
Action - Figure - Mother - Making - Common - Office (6 words recalled)

Partisipan 3
Membaca dengan tenang
Between - Apple - Father - Story - Search - Polite - Comment (7 words recalled)

Membaca dengan articulatory suppression
Figure - Mother - Making - Moment - X Baking (4 words recalled)

Partisipan 4
Membaca dengan tenang
Between - Apple - Comment - Father - Story - Polit - X Form - Enough (7 words recalled)

Membaca dengan articulatory suppression
Mother - X Before - Making - Action - Either - X Future (4 words recalled)

Partisipan 5 → pengecualian karena sudah membaca daftar yang digunakan pada ke empat partisipan sebelumnya, sehingga diberikan 20 daftar kata yang baru
Membaca dengan tenang
Gorgon - Illuminate - State - Further - Hijack - Limp - Consilation (7 words recalled)

Membaca dengan articulatory suppression
Slick - X Garlick - Stew - Shepherd - Grunge - Stream - Denim (6 words recalled)


IV.2 Analisis
Dari hasil penelitian, dapat dilihat bahwa 4 dari 5 partisipan menunjukkan adanya hasil yang menurun dalam kondisi articulatory suppression. Pada saat membaca dengan tenang, partisipan berhasil memasukkan beberapa dari 10 informasi ke dalam phonological store tanpa adanya gangguan dari articulatory loop. Hasilnya, informasi masuk ke dalam memori dan dapat direcall saat diminta untuk menuliskan kembali informasi tersebut.
Di bawah kondisi articulatory suppression, irrelevant speech yang diulang secara terus menerus mengganggu proses memasukkan informasi ke dalam phonological store. Di sini, peran articulatory loop adalah untuk secara terus-menerus me-refresh informasi yang ada dalam phonological store agar tidak hilang. Adanya irrelevant speech yang mengganggu proses tersebut membuat informasi yang ingin dimasukkan ke dalam phonological store tidak di-refresh dan akibatnya menjadi hilang. Pada akhirnya. ketika diminta untuk merecall 10 kata, partisipan tidak dapat melakukannya sebaik saat tidak berada dalam articulatory suppression.
Kesalahan beberapa partisipan juga dapat dikaitkan dengan adanya irrelevant speech, terutama partisipan 3, 4 dan 5 yang melakukan kesalahan pada fase kedua. Kesalahan tersebut terjadi karena irrelevant speech mengacaukan konsentrasi partisipan sehingga proses memasukkan ke dalam phonological store terganggu.

V. Analisa Perbedaan
Menurut peneliti, tidak ada perbedaan yang terjadi dalam penelitian kali ini dengan penelitian dalam Ashcraft & Radvansky (2010). Hal ini membuktikan bahwa efek articulatory suppression terjadi akibat adanya irrelevant speech saat proses memasukkan informasi ke dalam phonological store.

VI. Refleksi Mahasiswa secara Personal

Refleksi diriMoch. Ikhsan Aridani (sebagai peneliti)
Saat memberikan instruksi untuk mengulang irrelevant speech yang berupa ‘the’, partisipan tidak mengerti maksud yang disampaikan. Mereka mengasumsikan bahwa mereka harus mengucapkan ‘the’ di setiap kata yang ditampilkan daripada mengucapkan ‘the’ secara terus-menerus seperti yang dimaksud oleh peneliti. Selain hal tersebut, yang menjadi kendala saat mengambil data adalah untuk membuat partisipan fokus dalam mengingat kata-kata yang ditampilkan. Peneliti harus bertingkah laku senormal mungkin agar tidak menyita perhatian dari partisipan sedetik pun.
Tidak jarang ada partisipan yang mengarang kata saat diminta untuk menuliskan kembali kata-kata yang sudah diingat. Dalam penelitian, setidaknya ada dua partisipan yang menulis kata yang tidak ada dalam daftar. Kedua partisipan tersebut menuliskan kata yang tidak ada dalam daftar pada fase kedua, yaitu saat diminta untuk mengulang irrelevant speech ‘the’. Partisipan nomor 3 menuliskan kata Baking yang tidak ada dalam daftar. Hal ini dapat disebabkan partisipan sudah melihat kata Making sebelumnya dan kemudian memutuskan untuk menulis Baking. Partisipan nomor 4 menuliskan kata Future yang ada di daftar kata pada fase pertama. Di sini bisa diasumsikan bahwa irrelevant speech tidak saja mengganggu proses memasukkan informasi ke dalam phonological store, tetapi juga saat merecall informasi itu kembali.
Ada pun partisipan yang salah dalam pengejaan saat menuliskan kembali kata yang diingat. Saya sebagai partisipan nomor 5, menuliskan garlick saat fase kedua. Kata yang diminta adalah garlic. Kesalahan ini saya pahami akibat adanya irrelevant speech yang mengganggu saat memasukkan informasi pada eksperimen. Kata yang muncul setelah garlic adalah slick, kemudian saya mengkombinasikan kedua kata tersebut menjadi garlick saat diminta untuk merecall.

Refleksi diriAndreas Abednego K (sebagai partisipan)
Pada awalnya saya adalah partisipan untuk kelompok  melakukan eksperimen articulatory suppression. Pada saat dilakukan eksperiman, saya merasa kesulitan untuk membaca dan menghafal kata-kata yang diujikan. Hal ini disebabkan karena saya terlalu mencoba menghafal kata yang muncul sehingga kata-kata berikutnya kurang saya pahami. Selain itu, ingatan jangka pendek saya lemah. Hal ini menyebabkan hasil percobaan pertama saya mendapatkan skor 5 atau separuh dari hasil maksimum. Ketika percobaan kedua atau articulatory suppression dilakukan, saya merasa lebih mudah untuk menghafal kata-kata yang diujikan sehingga mendapatkan skor yang lebih baik dari percobaan pertama dengan skor 6. Hal ini bertentangan dengan hasil yang diharapkan dan yang dijelaskan pada buku Ashcraft dan Radfansky. Pada buku tersebut dijelaskan bahwa partisipan memberikan performa yang lebih buruk pada saat eksperimen dengan articulatory suppression sedangkan hasil penelitian yang didapat menunjukkan bahwa kinerja saya justru lebih baik pada saat ekperimen dengan articulatory suppression. Hasil ini berbeda dengan partisipan lainnya. Mereka semua menunjukkan hasil yang sama dan sesuai dengan apa yang dijelaskan di buku. Saya bingung dan tidak tahu mengenai skor yang saya hasilkan ini berbeda dengan skor pada umumnya.

Refleksi diriDenny Adre (sebagai partisipan)
Pada eksperimen 1 tanpa irrelevant speech, saya berhasil mendapatkan skor delapan dari skor maksimal sepuluh. Sedangkan pada eksperimen 2 dengan irrelevant speech saya mendapatkan skor 6 dari skor maksimal 10. Pada experiment pertama, saya dapat berkonsentrasi untuk menghafalkan kata - kata yang diberikan oleh peneliti kepada saya. hanya ada sedikit gangguan pada konsentrasi saya yang disebabkan oleh lingkungan sekitar karena ada beberapa orang yang sedang berbicara. Saya menghafal dan mengulang kata - kata yang saya lihat dengan menggunakan inner voice. Proses recall terjadi dengan cepat karena tidak ada distraksi yang signifikan sehingga kata - kata pada phonological store dapat di recall dengan baik.
Sedangkan pada eksperimen 2 yaitu eksperiman articulatory suppression task, skor saya turun menjadi 6 dari 10 soal yang diberikan. Seperti yang terdapat dalam buku Ashcraft dan Radfansky, kebanyakan partisipan akan mendapatkan skor yang lebih rendah pada eksperimen 2. Hal ini kemungkinan besar terjadi karena irrelevant speech yang mengganggu proses reherseal saya. Saya hampir tidak menggunaka inner voice karena benar - benar terdistrak oleh irrelevant speech yang harus saya lakukan berulang - ulang. Dampaknya langsung terasa pada saat proses recall dimana saya membutuhkan waktu yang lebih lama dan hasil yang lebih sedikit apabila dibandingkan dengan eksperimen 1. Hasil penelitian pada saya membuktikan penjelasan dan prediksi yang terdapat dalam buku Ashcraft dan Radfansky bahwa hasil pada eksperimen 2 articulatory suppression task lebih rendah apabila dibandingkan dengan eksperimen
1 yang membaca dengan tenang tanpa irrelevant speech.

Refleksi diriAhmad Nurizki Rifaie (sebagai partisipan)
Setelah melakukan eksperimen ini saya mendapatkan pelajaran, bahwa hal-hal tertentu seperti kebisingan, atau ada kegiatan lain dalam situasi melakukan dua kegiatan, dapat membuat kita lupa lebih cepat dan lebih banyak akan hal yang baru saja dilakukan bahkan yang baru saja kita ingat. Hal ini terbukti ketika eksperimen pertama saya  menghafalkan beberapa kata tanpa ada situasi yang mengganggu, dan saya dapat menghafalkan kata yang lebih banyak, dibandingkan dengan eksperimen pertama, eksperimen kedua saya menghafalkan beberapa kata tapi dengan situasi yang bebeda, karena ada manipulasi didalamnya dan manipulasinya adalah saya diminta untuk menghafalkan sejumlah kata-kata, sambil saya menghafal saya juga diminta untuk mengucapkan kata “dedede” secara berulang selama proses menghafal tersebut berlangsung. Terbukti pada hasil penelitian yang membuktikan bahwa kata-kata yang banyak dan cepat dihafal terdapat pada eksperimen pertama, dimana pada eksperimen tersebut tidak ada gangguan, berbanding terbalik dengan eksperimen kedua dimana hasilnya hanya sedikit kata-kata yang bisa dihafal karena terdapat situasi yang membuat proses menghafal saya menjadi terganggu. Hal ini tentunya dapat membuat saya mengambil pelajaran didalamnya untuk saya dalam memahami situasi, mempelajari mata kuliah, dan menghafalkan suatu hal. Bahwa ada situasi-situasi tertentu yang dapat membuat kita tidak focus terhadap suatu hal, dan tentunya situasi ini dapat mengganggu proses belajar yang mungkin saya lakukan.
Refleksi diriM. Fajri (sebagai partisipan)
Penelitian tentang articulatory suppression ini memang membuktikan bahwa ketika saya melaksanakan penelitian secara personal seperti langkah-langkah yang tertera di buku Ashcraft, saya mengalami hal yang serupa dengan hasil penelitian ini. Penelitian ini merupakan pembuktikan tentang keterbatasan working memory dalam melakukan  pekerjaan atau kegiatan yang lebih dari satu. Pada fase pertama ketika dihadapkan sepuluh kata berbahasa Inggris, dan itu hanya berupa pengingatan tanpa ada kegiatan lainnya selama penelitian, saya dapat mengingat dan dapat menuliskan kembali kata-kata yang ditayangkan sebelumnya sebanyak 7 buah kata dari 10 buah kata yang ada. Namun, pada fase kedua, sembari saya diminta unutk mengingat kata yang ditayangkan, saya juga diminta untuk mengucapkan kata “THE” selama penayangan sepuluh kata berikutnya(akumulasi kata-kata dari fase satu dan dua adalah 20 buah). Pada fase ini, karena ada penambahan kegiatan lain selain hanya mengingat, saya hanya bisa menuliskan kembali 4 buah kata secara tepat dari 10 kata yang ada
Dari hal ini saya kemudian menyimpulkan bahwa memang terjadi penurunan performa dalam megingat stimulus jangka pendek. Working memory juga lebih dominan menerima stimulus yang bersifat jangka pendek atau sementara. Penurunan dari 7 kata ke 4 kata memang membuktikan hal di atas. Ketika seorang diminta hanya melakukan satu kegiatan yaitu berupa visualisasi, mereka dapat melakukan pengingatan kembali dengan baik. Berbeda dengan penambahan kegiatan berupa articulatory. Kegiatan visualisasi dan articulatoy dilakukan secara bersamaan dan akhirnya mempengaruhi performa dalam mengingat kembali stimulus yang dihadapakan.
Kata “THE” sengaja dibedakan dengan kata-kata yang dipaparkan kepada saya karena perbedaan bentuk stimulus dapat memecah konsentrasi dalam mengingat. Adanya intervensi dari saya sendiri seperti penyebutan kata-kata “THE” membuat saya susah mengingat kata-kata yang dipaparkan kepada saya. Justru saya lebih konsentrasi dalam hal mengucapkan kata “THE” tersebut. Membagi konsentrasi di saat yang bersamaan cukup susah bagi saya. Apabila ada kata “THE” diganti dengan salah satu kata yang dipaparkan terhadap saya, maka kemungkinan besar itu dapat membuat saya teringat akan kata-kata yang dipaparkan tadi karena adanya kesamaan stimulus. Skema yang saya ucapkan dengan yang diperlihatkan yang sama membuat saya mungkin dapat mengingat dengan baik. Namun, dalam peneltian ini memang sengaja dipilihkan kata yang kontras atau sangat tidak ada kaitan dengan kata-kata yang dipaparkan kepada saya.
Dalam hal ini, sebenarnya juga ada kaitannya dengan kemampuan multitasking. Ada orang yang hanya dapat melakukan satu kegiatan dalam satu waktu, hal ini memang umumnya dilakukan oleh orang banyak. Namun, kemampuan melakukan lebih dari sat kegiatan dalam satu waktu dan output kedua kegiatan yang dihasilkan sama baiknya, maka ia dapat melakukan multitasking tersebut. Hal ini memang membutuhkan latihan. Apabila dikaitkan dengan peneltian ini maka dapat dikatakan orang yang multitasking dapat melakukan hal yang sama baiknya ketika diminta untuk mevisualisasikan dan mengucapkan kata “THE” secara bersamaan. Berbeda dengan saya, yang memang tidak bisa multitasking, ketika disuruh melakukan hal tersebut , saya mengalami penurunan dalam hal performa saat fase kedua yang notabene membutuhkan kemampuan yang ekstra.

Daftar Pustaka
Ashcraft, M. & Radvansky, G.A. (2010). Cognition (5th. ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson
Hanley, J.R. & Bakopoulou, E. (2003). Irrelevant speech, articulatory suppression, and phonological similarity: a test of the phonological loop model and the feature model. Psychonomic Bulletin & Review. 10. (2). 435-444
Padilla, F., Bajo, M.T. & Macizo, P (2005). Articulatory suppression in language interpretation: working memory capacity, dual tasking and word knowledge. Bilingualism: Language and Cognition. 8. (3). 207-219

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Follow by Email